Iklan google

Sabtu, 18 Januari 2025

Lirik lagu dayak ngaju :Malihi janji(terjemah indonesia)

Tagal haranan duit dan jabatan
(Hanya karena duit dan jabatan)
Balalu cinta mu bapindah pilihan
(Lalu cintamu berpindah-pindah pilihan)
Aku je susah kalah saingan
(Aku yang miskin kalah saingan)
Tasingkir mundur buhau kan saran
(Tersingkir mundur ke samping)
Danum mata ku mahantis rawu rawu
(Air mataku mengalir deras)
Mamikir ikau je dia ma ingat aku
(Memikirkan engkau yang tak ingat aku)
Janji Satia mu sampai kabakas Ongku
(Janji setiamu sampai engkau tua)
Tapi kenyataan ikau Malihi aku
(Tapi kenyataannya kau tinggalkan aku)
Cinta mu tutu baya hanjulu
(Cintamu hanya sekejap)
Balalu pindah nihau bagetu
(Kemudian pindah hilang terputus)
Ampin kapurum mu Malihi aku
(Begitu teganya dirimu tinggalkan aku)
Pander Satia mu baya tanjaru
(Kata setiamu dusta belaka)
Cinta mu nihau luntur dan tende
(Cintamu hilang, luntur, dan berhenti)
Balalu hancur angat pangkeme
(Kemudian hancur rasa perasaan)
Maniris mahantis danum mate
(Mengiris menetes sudah air mata)
Nyarenan angat atey je kapehe
(Menahan rasa hati yang sakit).
#lagu dayak
#viral dayak

Jumat, 01 November 2024

kisah enam bersaudara di tinggal ayahnya

Alkisah, ada enam bersaudara yang tinggal di sebuah desa kecil, jauh dari keramaian kota. Mereka adalah anak-anak yatim yang ditinggalkan ayahnya sejak si sulung masih kelas 3 SD. Adik bungsu mereka saat itu masih bayi, baru berusia 9 bulan. Sejak kepergian sang ayah, beban hidup keluarga ini ditanggung penuh oleh ibu mereka yang tak pernah lelah bekerja.
Sang ibu menghidupi anak-anaknya dengan bekerja keras di ladang dan menyadap karet. Setiap hari ia bangun subuh untuk berjalan jauh menuju ladang, meninggalkan anak-anak di rumah. Karena harus tinggal dekat ladang agar bisa bekerja sepanjang hari, ibu mereka tak bisa selalu berada di samping keenam anaknya. Karenanya, kakak tertua yang sudah beranjak remaja harus mengambil tanggung jawab besar. Ia mengurus adik-adiknya di rumah, memastikan mereka makan, belajar, dan tetap bersama.
Meski hidup mereka penuh keterbatasan, keenam saudara ini selalu berusaha saling mendukung. Namun, anak-anak di desa sering mengolok mereka karena mereka yatim. Cemoohan itu bukan hanya membuat hati mereka terluka, tetapi juga membuat mereka merasa semakin sulit bertahan di tengah keterasingan. Meski begitu, sang kakak tertua selalu berusaha tegar di depan adik-adiknya.
"Jangan dengarkan mereka. Ayah kita memang sudah tidak ada, tapi kita masih punya ibu yang sangat kuat dan saling memiliki. Kita pasti bisa melewati semua ini kalau tetap bersama," kata si sulung, menyemangati adik-adiknya yang kadang menangis karena merasa berbeda dari teman-teman mereka.
Seiring berjalannya waktu, anak-anak yatim ini belajar mandiri. Setiap hari, mereka saling membantu dalam pekerjaan rumah, bahkan kadang-kadang ikut membantu sang ibu di ladang. Semangat dan tekad mereka membuat hati sang ibu bangga, meski ia tak bisa selalu bersama mereka.
Cerita ini mengajarkan bahwa hidup mungkin membawa ujian berat, tetapi cinta dan kebersamaan mampu memberi kekuatan untuk bertahan. Bagi keenam anak yatim ini, kehilangan ayah bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan mereka untuk saling menjaga dan mendukung sebagai keluarga yang penuh kasih sayang. Meski mereka tak memiliki banyak materi, mereka memiliki satu sama lain, dan itu adalah harta yang paling berharga.
Cerita ini kutip dari grup fb.
πŸ˜‡πŸ˜‡

Senin, 14 Oktober 2024

Cerita Kesultan banjar

Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari kerajaan daha
Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, Menurut Naskah Cerita Turunan Raja Banjar Dan Kotawaringin (Hikayat Banjar Resensi I) sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Kesultanan Banjar berkembang dari pengaruh dan pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha pada abad ke-15. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Raden Samudera, yang kemudian menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Kesultanan Banjar kemudian menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di Kalimantan Selatan selama berabad-abad.
1. Asal Usul Kesultanan Banjar: Kesultanan Banjar berasal dari Kerajaan Negara Daha, sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berkuasa di wilayah Kalimantan Selatan pada abad ke-14 dan ke-15.
2. Pemberontakan: Pada abad ke-15, terjadi pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha yang dipimpin oleh Raden Samudera. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pemerintahan dan kebijakan kerajaan sebelumnya.
3. Sultan Suriansyah: Raden Samudera, setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Negara Daha, mendirikan Kesultanan Banjar dengan dirinya sendiri sebagai Sultan pertama, dengan gelar Sultan Suriansyah. Inilah awal dari Kesultanan Banjar yang mandiri.
4. Perkembangan KESULTANAN BANJAR : Setelah berdirinya Kesultanan Banjar, wilayah kekuasaannya berkembang pesat dan mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Kesultanan Banjar menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di pulau Kalimantan selama berabad-abad.
Dengan demikian, Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, tetapi berkembang menjadi entitas politik dan budaya yang mandiri dengan kekuasaan yang luas di wilayah Kalimantan Selatan.
SEJARAH BUKU-BUKU BAHASA BELANDA ANTARA LAIN :
1. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 1. D. A. Thieme
2. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 2. D. A. Thieme.
3. (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap
4. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog (ed. 2). A.W. Sythoff.
5. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte. Episode uit den Banjermasingschen oorlog. Expeditie tegen de versterking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier; beschrijving der versterking te Goenong Tongka, na de inname; aanteekeningen omtrent Pangeran Hijdaijat ... Tweede, veel vermeerderde ... druk.
6. Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Volume 1
7. Verhandelingen en Berigten Betrekkelijk het Zeewegen Volume 1
8. Jaarboek van het mijnwegen in Nederlandsch-IndiΓ«, Volume 17
9. De Voormalige Zelfbesturende En Gouvernementslandschapren In Zuid oost Borneo C Nagtegaal
10. dan lain sebagainya.
Pada tanggal 11 Juni 1860, perjuangan Kesultanan Banjar saat Belanda menghapuskan kedaulatan mereka. Pasukan kolonial mulai berkumpul di sekitar perbatasan, siap untuk melancarkan serangan terhadap kesultanan yang telah lama menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan,markas belanda di martapura dan banjarmasin
pasukan kolonial mulai membakar desa-desa yang terletak di sepanjang perbatasan kesultanan. Api menjilat-ratakan rumah-rumah tradisional, dan teriakan putus asa memenuhi udara saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk, Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.
Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar.
Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami. saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk ditahan.
Pada tahun 3 maret 1862, sultan dan wali sultan di asingkan ke batavia lalu di pindahkan ke Ciankur jawa barat perjuangan Kesultanan Banjar dengan pahit. Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.
Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar. Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami.
PAHLAWAN DARI BANJAR Mamgkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 & Demang Lehman
Kerajaan Banjar merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Kalimantan Selatan, Indonesia. Wilayahnya meliputi sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan, termasuk daerah sekitar Sungai Martapura. Bekas peninggalan kerajaan ini dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar provinsi Kalimantan Selatan, terutama di sekitar wilayah Banjarmasin, ibu kota provinsi tersebut.
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah:
1. Peran dalam Perlawanan:
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.
2. Kepemimpinan dan Pengaruh:
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 memiliki peran yang signifikan dalam memimpin dan memobilisasi masyarakat setempat untuk melawan penjajah, memberikan inspirasi dan dukungan bagi mereka yang berjuang untuk kemerdekaan.
3. Kontribusi pada Masyarakat:
Selain peran Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam perlawanan, Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga memiliki kontribusi yang berarti dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.
4. Representasi Kebudayaan dan Identitas Lokal:
Pengakuan terhadap Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga penting dalam melestarikan dan menghormati warisan budaya dan identitas lokal mereka, yang merupakan bagian integral dari sejarah dan kebanggaan bangsa.
5. Pelajaran Berharga:
Mengabadikan kisah Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam sejarah akan memberikan pelajaran berharga bagi generasi sekarang dan yang akan datang tentang pentingnya perjuangan, kesetiaan, dan keberanian dalam menghadapi penindasan dan penjajahan.
– Demang Lehman layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan kontribusinya dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Peran dan Kontribusi perang Banjar:Demang Lehman:
– Sebagai pemimpin lokal, ia memimpin masyarakat setempat dalam perlawanan, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.dalam perlawanan dengan keberanian dan keteguhan yang luar biasa, menginspirasi generasi berikutnya.
– Kontribusinya tidak hanya dalam perlawanan, tetapi juga dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.Selain mengorganisir perlawanan, dikenal karena upayanya dalam membangun solidaritas dan kesatuan di antara penduduk lokal untuk melawan penindasan.
– Nilai perjuangannya mencakup semangat kebebasan, keadilan, dan pengabdian kepada tanah air, yang merupakan landasan penting bagi kemerdekaan Indonesia.
Peran dan Kontribusi perang Banjar:Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862:
– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 adalah simbol perlawanan bangsawan terhadap penjajah Belanda, dan layak diabadikan dalam sejarah.
– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan pengaruh beliau dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
– Sebagai tokoh aristokrat, beliau memberikan inspirasi dan dukungan bagi masyarakat untuk berjuang demi kemerdekaan.beliau memberikan inspirasi dan kepemimpinan yang kritis dalam memobilisasi masyarakat untuk perlawanan, menunjukkan pengorbanan dan keteguhan yang luar biasa.
– Kontribusi beliau tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga dalam memperkuat identitas lokal dan membangun kesadaran nasional, dalam memperkuat kesadaran nasional dan semangat persatuan di antara bangsa Indonesia.
– Nilai perjuangan beliau mencakup semangat patriotisme, kepemimpinan yang adil, dan semangat untuk mencapai kemerdekaan serta keadilan bagi semua rakyat Indonesia.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Dia dikenal sebagai pejuang yang gigih dalam Perang Banjar pada abad ke-19. Pada masa itu, kerajaan Banjar berada dalam situasi konflik yang intens dengan Belanda yang ingin menguasai wilayah tersebut.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman merupakan salah satu pemimpin militer yang berani dan berbakat dalam mengorganisir pertahanan Banjar.Dia memimpin pasukan Banjar dalam pertempuran melawan pasukan kolonial Belanda. Meskipun menghadapi tekanan dan tantangan yang besar, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman bersama dengan pejuang-pejuang Banjar lainnya berusaha keras untuk mempertahankan kedaulatan dan kebebasan tanah air mereka.
– Perjuangan Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman dan para pejuang Banjar lainnya dalam Perang Banjar memperlihatkan semangat dan tekad yang kuat untuk melawan penjajahan dan menjaga kemerdekaan wilayah mereka. perjuangan mereka tetap diingat sebagai bagian dari sejarah dan warisan perlawanan terhadap penjajahan.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Pada tanggal 3 Maret 1862, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Cianjur, Jawa Barat. Ini merupakan bagian dari upaya Belanda untuk mengendalikan dan mengurangi pengaruh para pemimpin lokal yang dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan kolonial mereka.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan 3 maret 1862 karena peran serta aktifnya dalam perlawanan terhadap kekuasaan Belanda di Banjar. Sebagai seorang wali dan tokoh terkemuka di Banjar, ia memimpin perlawanan terhadap upaya-upaya Belanda untuk menguasai wilayah tersebut. Namun, upaya-upaya tersebut tidak berhasil, dan akhirnya Belanda mengambil tindakan keras dengan mengasingkan Pangeran Wirakusuma ke Cianjur.
– Meskipun diasingkan, Wali Sultan Banjar wafat 6 juni 1901 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman tetap mempertahankan semangat perlawanan dan tekadnya untuk melawan penjajahan Belanda. Meskipun terpisah dari tanah airnya, warisannya sebagai pejuang dan pembela kemerdekaan Banjar tetap dikenang dan dihormati oleh masyarakat setempat. Peristiwa pengasingan ini merupakan bagian penting dari sejarah perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Kalimantan Selatan.
Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II: adalah Putra Raja Pangeran Ratu Abdurrahman bin Sultan Adam Bin Sultan Sulaiman rahmatulah bin sultan Tahmidulah II KESULTANAN BANJAR kalimantan selatan indonesia
Lebih dari itu, Pangeran Wirakusuma juga menjadi motivator dan inspirator bagi pasukannya. Dengan kata-kata yang penuh semangat, beliau mampu menggerakkan hati dan jiwa para prajuritnya, membangkitkan semangat perjuangan dalam diri mereka. Bersama-sama, mereka siap menghadapi segala rintangan demi melindungi tanah air mereka.
Di setiap pertempuran, Pangeran Wirakusuma selalu berada di garis depan, memimpin pasukannya dengan keberanian dan keteguhan hati. Kepahlawanan mereka dalam menghadapi musuh yang kuat dan keberanian mereka dalam menghadapi tantangan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Pengaruh Pangeran Wirakusuma tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Banjar, tetapi juga meluas ke seluruh Indonesia. Namanya diabadikan sebagai simbol kepahlawanan dan keteguhan dalam menghadapi penjajah, menginspirasi banyak orang untuk meneladani semangatnya dalam menjaga dan mempertahankan tanah air. Warisannya dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan keadilan terus mengilhami generasi-generasi berikutnya.
Kisah perjuangan dan pengaruh Pangeran Wirakusuma tetap hidup dalam sejarah Banjar dan Indonesia secara keseluruhan. Namanya terukir sebagai pahlawan yang tidak hanya berani dalam pertempuran, tetapi juga mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebagai pahlawan sejati dan simbol perlawanan terhadap penjajah, Pangeran Wirakusuma akan selalu dihormati dan diingat sebagai teladan bagi kita semua.
Beberapa situs bersejarah yang masih ada dan terkait dengan Kerajaan Banjar antara lain:
1. Istana Kesultanan Banjar: Istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Banjar dan pusat pemerintahan kerajaan. Saat ini, beberapa bekas bangunan istana telah direstorasi dan dijadikan objek wisata sejarah.
2. Makam Kesultanan Banjar: Makam-makam para sultan dan tokoh penting kerajaan Banjar dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar Banjarmasin. Makam-makam ini sering menjadi tempat ziarah dan menjadi peninggalan sejarah yang penting.
3. Museum Wasaka & Lambung Mangkurat: Museum Wasaka di Banjarmasin merupakan tempat yang menyimpan berbagai artefak dan benda bersejarah terkait dengan Kerajaan Banjar, seperti pakaian adat, peralatan kerajaan, dan dokumen-dokumen sejarah.
4. Situs-situs Arkeologi: Beberapa situs arkeologi di sekitar Kalimantan Selatan juga telah mengungkapkan peninggalan sejarah Kerajaan Banjar, seperti artefak-artefak tembikar dan struktur bangunan kuno.
Meskipun banyak peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan, beberapa di antaranya mungkin telah terkubur atau rusak karena faktor alam atau aktivitas manusia. Namun, upaya pelestarian dan pemulihan terus dilakukan untuk menjaga warisan bersejarah ini agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.
Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II, lahir pada tanggal 19 Agustus 1822, adalah wali sultan Banjar yang menjadi kepala pemerintahan berkuasa. Beliau memerintah dari tanggal 3 November 1857 hingga 3 Maret 1862, dan wafat pada tanggal 6 Juni 1901. Beliau diakui sebagai Pahlawan Banjar Kalimantan Selatan.Peran Pangeran Wirakusuma dalam Perang Banjar sangatlah penting. Pada masa-masa awal perang melawan penjajah Belanda, beliau muncul sebagai tokoh utama yang memimpin perlawanan.
Sebagai Wali Sultan Banjar Kerajaan Banjar, beliau memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi kedaulatan tanah airnya. Pangeran Wirakusuma tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga seorang strategis yang ulung. Beliau merancang strategi perang yang cerdas, memanfaatkan pengetahuannya tentang medan dan kekuatan musuh untuk merencanakan serangan yang efektif.
Dengan mengakui dan mengabadikan peran serta kontribusi beliau, kita dapat memastikan bahwa warisan mereka tetap hidup dan dihargai oleh generasi mendatang, serta memberikan inspirasi bagi perjuangan masa depan.
Cerita di kutip dari grup fb.

Sabtu, 12 Oktober 2024

DATU NIHING"

Penunggu gaib kalimantan
Pada zaman bahari, di pegunungan meratus hiduplah seorang datu. Datu Nihing. sewaktu muda beliau suka merantau ketempat yang sangat jauh untuk mencari ilmu. menurut cerita beliau pernah berguru kepada Panglima Burung di pedalaman kalimantan tengah, Panglima Antang di pedalaman kalimantan timur, Panglima Ambih di pedalaman kalimantan baratt, dan juga dengan Patih Ampat dari kalimantan selatan. jadi jangan heran kalau Datu Nihing sangat sakti. beberapa ilmu beliau yang diketahui masyarakat, katanya beliau bisa menerbangkan mandau ( memenggal kepala tanpa diketahui ), kebal, bisa menjadi raksasa dalam sekejap, menjadi kecil dalam hitungan detik, kuat dalam hal apapun, bisa bernafas didalam air, berjalan diatas air, menjadi tabib, dan lain-lain. Datu Nihing mempunyai kebiasaan "mangayau' setiap bulan april. sasarannya adalah anak kecil. oleh karena itu banyak anak kecil yang hilang di bulan april pada saat itu. seandainya anak kecil itupun dapat, selalu ditemukan tanpa kepala.
Datu Nihing ini tinggal didalam gua, pekerjaannya 'bagarit bayi dan payau'. menggunakan pakaian dari kulit kayu atau kulit binatang. ketika sedang melakukan pekerjaannya di depan gua beliau melihat ada ular raksasa sebesar pohon, mungkin panjangnya 30 meter lebih. Langsung saja beliau mencabut mandau yang langsung diterbangkannya ke arah kepala ular tersebut. anehnya ular itu tidak apa-apa ketika terkena senjata Datu Nihing. hingga mandau itu diarahkan Datu Nihing ke arah leher, tapi tak satupun sabetan mandau itu melukai ular itu.
“Ini pasti ular jajadian” ujar Datu Nihing dalam hati.
Ular itu setelah terkena mandau Datu Nihing, langsung mengamuk. kepalanya menumbuk kearah datu Nihing. Datu Nihing kesana kemari menghindar. sebelum Datu menarik nafas, ekor ular itu sudah mengenai Datu Nihing. saking kerasnya hempasan ekor ular itu, menmbuat Datu Nihing terjungkal jauh kearah tepi tebing batu. untung saja Datu Nihing mempunyai ilmu kebal, jadi beliau tak apa-apa. saat itu Datu Nihing langsung teringat ucapan Guru beliau bahwa ular paling takut dengan 'Haduk Hanau'. langsung saja beliau mengeluarkan 'tali haduk' yang sering beliau bawa kemana-mana untuk mengikat ular itu. kesana kemari beliau mengelilingi ular itu dan terikatlah ular itu yang membuat ular tersebut menjadi lemah tak berdaya. dan ditebaslah kepala ular itu dikepalanya dengan mandau Datu Nihing.
Pernah juga ketika didalam belantara hutan beliau bertemu sosok mahluk mariaban. yang diperkirakan tingginya sekitar 5 meter. mariaban itu mempunyai bulu diseluruh tubuhnya dan taring panjang. Melihat mariaban itu langsung saja beliau menjadi raksasa, dan berkelahi dengan mahluk mariaban itu. banyak pohon roboh ketika kedua mahluk itu bertarung. dari puncak gunung hingga jatuh kedalam jurang. dibanting dan dipukul pun mariaban itu tak mempan. apalagi dibanting ke batu. lalu teringatlah beliau satu tanaman yang bisa mengalahkan mariaban itu dari guru-guru beliau. bamban. ketika bamban itu di pukulkan ke mariaban, berteriaklah mariaban itu kesakitan. kesana kemari Datu Nihing memukulkan bamban itu ketubuh mariaban, hingga tewas. setelah mariaban itu mati, Datu Nihing lalu mecabut bulu mariaban itu sebagai kenang-kenangan.
Kata orang bulu mariaban itu bila ditelan akan membuat orang itu kebal terhadap senjata apapun. tapi mempunyai kelemahan bila dipukul dengan batang bamban.
Di kutip dari sumber fb grup

BAWI KUWU TUMBANG RAKUMPIT

konon, di sebuah kampung sekitarpertengahan aliran Sungai Rungan tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit,
tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya.
Ketika beranjak dewasa wanita cantik itu
dilarang orangtuannya untuk keluar rumah dan
lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam
kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia
mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun
lamanya.
Pada suatu ketika, kedua orangtua Bawi Kuwu
ingin pergi keladang lalu berpesan kepada
dayang-dayang untuk menjaga anak
kesanyangan mereka itu di dalam rumah. tidak
lama setelah kedua orangtuannya itu pergi, tiba-
tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan ingin
madi di Sungai Rungan yang letaknya tidak jauh
dari rumah mereka, tentu para dayang yang
mengawal Bawi Kuwu melarangnya untuk keluar
rumah, apalagi untuk pergi sendiri ke sungai.
Lalu dayang-dayang itu mengambilkan air
kesuangai Rungan untuk memandikan Bawi
Kuwu di dalam rumah, tetapi keinginan dari
para dayang itu ditolaknya dan tetap bersikeras
untuk pergi sendiri kesuangai itu. Suasana
hampir tidak terkendali tetapi akhirnya para
dayang berhasil mencegah keinginan Bawi Kuwu
tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, rupanya
perlakuan dari para dayang itu malah membuat
Bawi Kuwu merasa penasaran. Setelah melihat
situasi aman dan lepas dari pengawalan, Bawi
Kuwu pergi ke Sungai Rungan dengan diam-diam
tanpa ada yang tahu.
Sesampainya di tepi sungai, tepatnya diatas
Lanting (rakit dari kayu dalam bahasa suku
dayak) kejadian naas menimpa gadis cantik itu.
Tiba-tiba buaya besar muncul ke permukaan air
dan menyambar Bawi Kuwu yang belum sempat
mandi di sungai itu, lalu membawannya ke
sarangnya di dalam sungai. Sementara itu situasi
di dalam rumah geger setelah para dayang
menyadari bahwa Bawi Kuwu tidak ada didalam
kamar.
Kemarahan besar muncul dari kedua orangtua
Bawi Kuwu kepada dayang-dayang, karena telah
lalai sehingga mereka tidak mengetahui kemana
perginya anak kesayangan mereka itu. Lalu hari
itu juga mereka memanggil para tokoh adat dan
orang-orang yang memiliki kesaktian dari suku
dayak.
Tiga hari tiga malam lamanya, mereka
mengadakan ritual dalam suku dayak untuk
mencari Bawi kuwu, dan pada suatu malam,
saudara laki-laki dari Bawi Kuwu bermimpi
bertemu dengan Patahu (orang gaib suku dayak)
dan memberikan petunjuk bahwa Bawi Kuwu
masih hidup dan sekarang berada didalam perut
buaya yang telah membawannya itu. Orang gaib
itu juga berpesa apabila buaya itu muncul,
jangan sekali-kali membunuhnya. Lalu
saudarnya itu terbangun dari tidur dan
menceritakan tentang mimpinya itu.
Ketika itu juga mereka mencari Pangareran
(Pawang buaya dalam bahasa suku dayak), dan
tepat pada hari ketiga dalam ritual itu, buaya
yang membawa Bawi Kuwu muncul dari Sungai
Rungan lalu bergerak menuju daratan. Setelah
melihat buaya besar itu datang, tiba-tiba rasa
sedih bercampur amarah muncul dari saudara
laki-laki Bawi Kuwu. Mungkin karena begitu
menyayangi adiknya membuatnya kalap dan lupa
akan pesan orang gaib yang menjumpainya
didalam mimpi, lalu ia menombak buaya itu
sehingga akhirnya mati.
Setelah melihat kejadian itu, mereka langsung
membelah perut buaya dengan peralatan
seadanya dan mendapati Bawi Kuwu yang juga
sudah tidak bernyawa lagi, mati bersama-sama
dengan buaya itu. Akhirnya suasana duka
menyelimuti seluruh kerabat dan semua yang
menyaksikan peristiwa itu.

Jumat, 27 September 2024

CERITA RAKYAT DAYAK UT-DANUM DI BARAS NABUNOleh: YULIUS OBENGJudul: SONGUMANG DAN LACAK HACIK

Penunggu gaib di kalimantan
Konon,Songumang dan Lacak hacik masih kelurga dimana Lacak hacik ini beradik dengan ibu Songumang. Pada suatu hari di kampong mereka mulai musim membuka lading.Songumang danLacak hacik pun berladang,dimana ladang mereka berdampingan.Musim membuka ladang sudah dimulai hingga masa nebang dan nanampun sudah lewat.Tinggal menunggu panen saja,suatu hari Songumang pergi ke ladangmelihat padi dan sayur-sayuran yang sudah ditanam.Namun apa yang terjadi? Padi dan sayuran banyak yang dimakan Boruk*) .Kemudian Songumang pulang ke rumah memberitahukan pada ibunya bahwa lading mereka diserbu kawanan Boruk.Suatu hari Songumang masang bubu di sungai dekat ladangnya sambil muhkok**) kawanan Boruk yang masuk ke ladangnya.Pagi Songumang nohtok***) bubunya hanya dapat ocin kosung****) gabus seekor saja.Maka timbul niatnya menjebak kawanan Boruk dengan memasukan ikan gabus kedalam purusnya=duburnya.Setelah melakukannya Songumangpun teriak minta tolong,Sambil mengulingkan badan ditanah biar nampak benaran jatuh kena tungkul kayu.Mendengar suara minta tolong kawanan Boruk mencari sumber suara tadi,setelah bertemu mereka melihat Songumang sudah mati(pura-pura sich).Merekapun ngahtang=angkat mayat Songumang ke rohpo umok *) Songumang kemudian mereka pun nanum=mengubur mayat Songumang dan mohatik=membekali dengan segala jaot-koratung-sokanong (tempayan tua-gong-canang)dll.Mereka sangat sedih karena Songumang sudah mati tidakada lagi yang berladang untuk mereka.Selah mereka pulang semua Songumangpun moyun=bangun dari kuburnya dan dia melihat di sekitar kubur banyak barang berharga,lalu barang tersebut dibawa pulang kerumahnya.Sampai dirumah Songumang mencoba nahpish=membunyikan gong dan canangnya.Lacak hacik heran dari mana ahkon=keponakannya dapat barang tersebut.Ahkon darimana kamu dapat semuaini?”kata Lacak hacik”.Diceritakanlah oleh Songumang tentang pengalaman bagaimana dia menjebak kawanan Boruk yang masuk keladangnya pada
mamaknya=pamannya.Belum selesai Songumang ceritakan sudah dipotong oleh pamannya,Saya sudah tahu cara ahkon katanya langsung pulang kerumah,Kemudian menceritakan pada keluarganya bahwa tentang pengalaman Songumang mendapatkan harta-benda berharga tersebut.Besok saya akan ke ladang sambil memasang bubu di sungai dekat ladang kitanya bilang istrinya.Pagi hari benar Lacakhacik sudah ada diladang langsung memasang bubunya disungai,sambil menunggu bubunya dia menghalau kawanan Boruk yang masuk ke ladangnya setelah itu dia langsung pulang kerumah,menceritakan bahwa ladang merekapun masuki oleh kawanan Boruk.Keesokan hari Lacakhacik pergi keladang melihat bubunya hanya dapat ikan boit=pati.Lacakhacikpun melakukan sesuai dengan yang diceritakan ahkonnya.Kemudian diapun teriak minta tolong sambil mengulingkan badannya ditanah.Mendengar suara tersebut kawanan Boruk datang dan melihat Lacakhacik sudah mati,lalu mereka angkat mayatnya kepondok belum dipondok Lacakhacik bergerak karena ikan pati itu bergerak ,kiwai=sirip ikan pati melukai duburnya.kawanan Boruk terkejut langsung menjatuhkan badan Lacakhacik dari papahan mereka dan lari kehutan.Sementara Lacakhacik menahan sakit karena ikan pati susah dikeluarkan dari duburnya siripnya sangkut.Diapun pulang ke rumah sambil menahan sakit yang luarbiasa.Lacakhacik menyesal atas perbuatannya yang tergesa-gesa tanpa memikirkan akibatnya.

Kamis, 26 September 2024

KISAH NYAI UNDANG,,TAMBUN DAN BUNGAI ...PERTEMPURAN DIPULAU KUPANG )

Pahlawan di kalimantan
Alkisah Temanggung Sempung sudah mengambil Nyai Nunjang menjadi istrinya dan di anugerahi seorang putri yang diberi nama Nyai Undang, seorang putri yang sangat cantik parasnya, seperti dewi turun dari kayangan. Maka Temanggung Sempung bermaksud akan mengambil Sangalang anaknya Mereng cucu dari Karangkang menjadi menantunya.
Maka tersiarlah kabar dimana-mana akan kecantikan Nyai Undang itu, dan berita itu pun sampailah kepada Raja Laut namanya Sawang. Maka datanglah Raja Sawang dengan balatentaranya, dengan maksud untuk mengawini Nyai Undang tersebut.
Dan dia berjanji dengan semua balatentaranya, jika maksudnya untuk mengawini Nyai Undang itu tidak diterima, maka dia akan mengumumkan perang dengan kota Pulau Kupang itu.
Singkat cerita, dengan di iringi tempik sorak dan teriakan dari para pengiringnya, maka sampailah Raja Sawang di istana Nyai Undang tersebut. Tetapi malang akan tiba, waktu Raja Sawang akan melangkahkan kaki nya diatas Kayu-Nyilu dipintu gerbang istana, maka Raja Sawang terus jatuh, lemah lunglai segala sendi anggota tubuhnya, seperti orang yang tidak bertenaga lagi.
Melihat akan hal yang demikian itu maka Nyai Undang lalu mengambil Dohong Γ’€Ε“Raca Holeng Joha, Kahajun Duun Suna Taja Panulang Karing, Hitan Iung Pundan, Sanaman Mantikei dari hulu Katingan Kuman RahaΓ’€�. Oleh karena Sawuh (mengamuk) Nyai Undang terus turun mengamuk, semua balatentara Raja Sawang yang ada di Banama dibunuhnya.
Balatentara Raja Sawang menderita kekalahan dan menyerah. Dan mereka yang hidup dijadikan tawanan dan dijadikan jipen atau budak beliannya.
Dari rakyat Raja Sawang dan Raja Nyaliwan (Raja Utara) yang masih hidup ada beberapa orang yang masih dapat melarikan diri dan membawa kabar tentang jalannya pertempuran. Setelah mendengar kabar inilah maka seluruh rakyat Raja Sawang berjanji akan menuntut balas untuk kematian Rajanya.
Semua balatentara Raja Sawang yang menjadi tawanan tadi akhirnya kimpoi mengawin dengan suku dayak, sehingga mereka menjadi satu turunan yang besar yang akhirnya juga menjadi nenek moyang dari suku bakumpai ialah Tamanggung Pandung Tandjung Kumpai Dohong, dari suku barangas ialah Suan Ngantung Rangas Tingang, dari suku alalak ialah Imat Andjir Serapat.
Kabar bahwa Kerajaan Raja Sawang akan menyerang kota Pulau Kupang sampai pula ke Nyai Undang. Maka Nyai Undang mengirimkan utusannya ke Tumbang Pajangei. Dan bersama dengan utusannya itu dikirmkannya pula sebatang Lonjo Bunu atau tombak Bunu sebagai surat. Pesannya itu dikirimkannya kepada Rambang, Ringkai, Tambun, Bungai di Tumbang Pajangei. Yang mana maksud dari Tombak Bunu itu adalah meminta bala bantuan untuk berperang.
Dengan tidak berpikir panjang dan membuang-buang waktu lagi Rambang, Ringkai membawa Temanggung Bungai Andin Sindai anak Temanggung Sempung yang paling berani dan gagah perkasa, serta Raja Tambun Tandjung Ringkin Duhong anak Serupoi.
Keduanya adalah pahlawan yang pangkamenteng pangkamamute. Karena kedua pahlawan ini belum pernah satu kalipun mengalami kekalahan.
Adapun nama-nama para panglima yang turut serta untuk membela Pulau Kupang adalah:
1. Njaring anak Ingoi dari Hulu Miri
2. Bungai anak Ramping dari Tumbang Miri
3. Temanggung Kandeng keponakan Piak Batu Nocoi Riang Naroi
4. Isoh Batu Nyiwuh
5. Etak kampong Tewah
6. Temanggaung Handjungan dari Sare Rangan
7. Temanggung Basi Atang dari Penda Pilang
8. Temanggung Sekaranukan dari Tumbang Manyangen
9. Temanggung Renda dari Baseha
10. Temanggung Rangka dari Tumbang Rio
11. Temanggung Kiting dari Tanjung Riu
12. Temanggung Lapas dari kampung Baras Tumbang Miwan
13. Temanggung Basir Rumbun dari teluk Haan
14. Temanggung Hariwung dari Tumbang Danau
15. Temanggung Dahiang bapa Buadang dari Sepang Simin
16. Temanggung Ringkai dan Tombong dari Tangkahen
17. Temanggung Uhen dari kampung Manen
18. Temanggung Kaliti dari Rawi
19. Rakau Kenan dari Tumbang Rungan
20. Temanggung Kandang Henda Pulang dari Sugihan (Guhong)
21. Temanggung Andin dari Pulau Kantan
Tiada berapa lamanya berkat kerjasama dan saling mengerti satu akan yang lainnya, maka siaplah kota itu lengkap dengan persenjataannya. Dan diberilah nama oleh mereka akan kota itu Γ’€Ε“Kota Pematang SawangΓ’€� yang selalu siap sedia menerima kedatangan musuh. Istana tempat Nyai Undang dikepalai oleh Temanggung Rambang.
Semua Panglima Perang dari sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan , Seruyan telah berkumpul didalam kota itu. Semua menjadi satu dengan tekad dan satu dasar ialah kerjasama yang erat. Tidak berapa lamanya, musuh(asang) pun datanglah. Jumlah Asang yang datang itu kurang lebih 10.000 orang banyaknya.
Sebelum peperangan dimulai maka Temanggung Rambang dan Temanggung Ringkai menenung sambil menyanyi. Maka dengan tiba-tiba datanglah burung Elang dan memberi tanda menang. Dengan tidak takut akan maut, mereka melawan dan menyerang musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari mereka.
Dengan alat-alat senjata yang ada dan segala pusaka dari nenek moyang suku Dayak pertempuran berlangsung dengan seramnya. Darah mengalir dari tubuh balatentara musuh yang mati, membasahi tanah dan menjadikan air sungai berubah menjadi merah warnanya. Tetapi Panglima-Panglima suku Dayak semuanya tidak ada satu orang pun yang luka atau mati terbunuh oleh senjata musuh, karena mereka memakai pusaka dari Ranying.
Melihat akan ketangkasan serta keunggulan dari balatentara Nyai Undang yang pantang mundur itu, maka akhirnya mereka menyerah dengan marup. Di dalam peperangan yang demikian sengitnya itu, Temanggung Rambang lah yang sangat berjasa karena dia dapat memotong kepala asang tersebut. Semua kepala pasukan musuh mati terbunuh.
Setelah peperangan selesai maka di adakan lah pesta besar untuk memalas Temanggung Rambang dengan darah ayam, babi, sapid an darah orang yang dibunuhnya tadi, supaya tidak tulah karena demikianlah Adat Dayak. Selagi mengadakan pesta itu semua utusan suku Dayak dari seluruh Kalimantan di undang. Dalam pesta itu sudah berkumpul lebih kurang 35 wakil suku Dayak. Yang nama-namanya ada tertulis sebagai berikut:
1. Manan dari hulu Kahayan
2. Londoi dari Tabahoi
3. Djato dari Bahoi
4. Ibong dari Buit Kalimantan Utara
5. Ikuh dari Tinggalan (Tidong)
6. Tingang dari Bukat (Dayak Bukat)
7. Kuit dari hulu Rundit Bt Lupar
8. Parekoi dari Serawai
9. Tunda Luting dari Samba Katingan
10. Dekoi dari Malahoi
11. Unei dari dayak Sahiei
12. Tamban dari Katingan
13. Mahat dari Mahalat
14. Etas dari hulu Kapuas
15. Dalong dari Hampotong
16. Umbing dari Manuhing
17. Tukoh dari Mamaruh
18. Gana dari Mentaya
19. Nuhan dari Saruyan
20. Bakan dari Rungan
21. Sindi dari Miri
22. Bahon dari Bahaun
23. Sawang dari Siang
24. Djohan dari Taran
25. Sota Munan dari Maanyan
26. Pahan dari Kalangan
27. Sakai dari Serawai
28. Manoui dari Rakaoi
29. Punan dari Heban
30. Hinan dari Dusun
31. Djaman dari Kabatan
32. Ritu dari Uru
33. Lati dari Pari
34. Nanau dari Lamandau
Setelah selesai pesta tadi maka sampailah giliran pesta besar lagi untuk mengawinkan Temanggung Sangalang dengan Nyai Undang di Pematang sawang Pulau Kupang. Dan selain itu Mangku Djangkan membikin pesta besar di Pulau Kantan mengawinkan Njaring anak Ingoi dengan Manjang anak Mangku Djangkan, pesta itu tujuh hari tujuh malam lamanya.
Sedikit catatan tentang Pulau Kupang Pematang Sawang. Kota ini turun temurun berganti-ganti orangnya yang menjadi Raja disitu. Dan kotanya juga sering berganti. Hanya dalam tetek tatum tidak diceritakan tentang perubahan kota itu. Jaman sekarang di tempat itu ada terdapat meriam dan bekas peninggalan-peninggalan. Ditempat itu juga sudah diadakan parit yang di namai Terusan Bataguh. Hingga sekarang sering disebut kota Bataguh. Kayu-kayu ulin yang menjadi tiang dan tembok kota itu luasnya tidak kurang dari 5 kilometer persegi.
Di kutip lewat grup fb
 

Rabu, 18 September 2024

misteri warna kuning dalam mistik banjar.

Kain kuning di kalimantan
Masyarakat banjar kalimantan selatan sangat kental dengan adat dan budaya hindu.
Sebuah kepercayaan yang berbaur dengan animisme dan dinamisme.
Warna kuning merupakan simbol keramat yang dianggap agung dan mulia. Hingga banyak makam para tetuha dulu, ulama, wali dan bahkan tempat dianggap keramat diberi kain berwarna kuning.
Adakah tahu sebab kenapa hal ini bisa terjadi?
Banyak faktor penyebabnya, sumber yang dapat kami gali hingga saat ini ada 2 alasan besar yang mendasarinya.
1. Sejarah banjar pangeran samudera yang bertapa didasar samudera selama 41 malam dan keluar dengan tubuh berwarna putih kuning dan berpakaian serba kuning dan berdiri diatas gong/agung berwarna kuning.
2.kepercayaan akan alam kayangan merupakan salah satu kepercayaan sakral, dimana pakaian para penghuni kayangan dan warna alam kayangan lebih banyak di dominasi warna kuning.
Demikian sekilas info, semoga menjadi tambahan pengetahuan .

Sabtu, 07 September 2024

Cerita Rakyat Kalimantan Tengah (Asal Desa Sapundu Hantu)


Kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah terkenal dengan falsafah rumah betangnya, setiap pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga dilakukan secara handep haruyung atau bergotong-royong. Demikianlah pula halnya dengan perilaku penduduk di hulu sungai Seruyan, di sebuah dusun pedalaman pada zaman dahulu kala, di saat musim menanam padi di ladang.
Tradisi bergantian menanam itu dilakukan oleh sebuah keluarga, yang kini giliran lahannya untuk ditanami, karena pada hari-hari sebelumnya ia sudah membantu di lahan keluarga lain. Warga dusun pun berangkat dengan perahu menyeberang sungai menuju ke ladang, tidak terkecuali anak-anak kecil juga dibawa serta dari pada ditinggalkan di rumah, sebab tidak ada yang menjaganya.
Di ladang itu ada sebuah gubug, maka ditinggalkanlah kedua anak laki-laki dari keluarga yang ditanami ladangnya itu oleh orang tuanya. Keduanya masih tanggung untuk dibawa bekerja, karena baru berusia empat dan tiga tahun. Mereka berdua dipesani agar jangan jauh bermain serta tetap berada di gubug. Orang-orang itu, tua dan muda, lalu sibuk bekerja sambil bersenda-gurau, kadang diselingi dengan gelak tawa untuk menghilangi rasa lelahnya.
Sementara itu kedua anak pemilik ladang tadi asyik bermain. Tiba-tiba mereka melihat seekor belalang besar hinggap di dekat mereka. Kedua anak itu heran melihat bentuk belalang itu yang agak lain dari biasanya, keanehannya adalah warna sayapnya yang berwarna-warni dan kepalanya seperti raut muka manusia. Berhentilah kedua anak itu bermain dan sepakat untuk menangkap belalang tersebut.
Keduanya mencoba menangkapinya namun gagal, sebab belalang itu melompat dan hinggap di daun pada semak-semak dekat gubug. Mereka turun dari gubug, penasaran mengejar untuk menangkapnya dan senantiasa gagal. Saking asyiknya mengejar, sementara belalang itu selalu dapat meloloskan diri. Tanpa keduanya menyadari mereka sudah berada di tepi sungai.
Sang kakak lalu berkata : “Sulit untuk kita menangkapnya, baiknya kita pukul saja dengan ranting kayu”. Kebetulan di tempat itu ranting kayu mudah diperoleh, bekas tebangan pohon kecil, jalan untuk ke ladang. Dalam satu kali pukulan saja kenalah belalang itu lalu jatuh ke tanah, belalang itu mati.
Kemudian bangkai belalang itu dipungut sang adik seraya membentangkan sayapnya, sementara sang kakak memperhatikan bangkai belalang itu sambil menusuk mukanya dengan ranting.
Kemudian keduanya turun ke tepi sungai, membenamkan bangkai belalang itu beberapa kali ke dalam air sungai. Karena asyiknya mempermainkan belalang itu, tanpa mereka sadari belalang tersebut berubah wujud, sayapnya perlahan-lahan berubah menjadi seperti tangan manusia.
Sang kakak ternyata melihat hal itu dan berkata : “Dik, cepat lepaskan. Mari kita pulang ke gubug !” Belalang itu ternyata adalah seorang jin penghuni hutan di sekitar ladang itu.
Badannya yang besar dan berwarna kemerah-merahan dengan mukanya yang remuk karena tusukan anak yang tertua tadi, masih dapat berucap dan mengutuk semoga semua mereka yang berada di ladang itu mati disambar petir.
Maka datanglah angin ribut disertai guntur dan petir, suasana menjadi gelap. Kedua anak tersebut telah sampai di gubug sambil berteriak memanggil orang tuanya serta semua mereka yang bekerja itu : “Ayah ! Ibu ! Tolong pulanglah semuanya !”
Melihat cuaca yang berubah itu mereka yang sedang bekerja di ladang serentak berhenti dan berlarian pulang menuju ke arah gubug. Hampir tiba, hanya beberapa langkah lagi ke gubug, bersamaan dengan itu pula sebuah petir yang besar menyambar mereka dan gubug itu. Sesaat langit menjadi gelap pekat dan ….. gubug itu dengan dua orang anak berada di dalamnya serta gerombolan orang banyak yakni orang tuanya dan warga dusun yang bergotong-royong tadi tertutup bongkahan batu besar, semuanya terkurung namun masih hidup. Angin bertiup kencang diiringi hujan lebat.
Tidak berapa lama kemudian langit menjadi terang, hujan badai dan angin ribut tiba-tiba menghilang. Mereka yang ada di dalam gundukan batu berteriak saling memanggil dan meminta tolong.
Orang-orang di dusun tidak kalah kagetnya menghadapi perubahan cuaca itu. Mereka lalu keluar dari rumahnya dan teringat pada keluarga mereka yang handep haruyung di ladang. Dengan serempak mereka menyeberang.
Setibanya di seberang mereka mendengar jeritan serta teriakan meminta tolong, bergegas mereka menuju ke ladang. Suara itu semakin jelas. Alangkah terperanjatnya mereka karena terlihat di sana ada dua buah batu besar dan suara jeritan serta teriakan tersebut berasal dari dalamnya.
Sebagian lalu berusaha memecahkan kedua gundukan batu itu dengan palu, namun tidak berhasil karena sangat besarnya. Sedang yang lainnya memahat membuat lubang untuk mengeluarkan orang-orang itu.
Batu tersebut sudah berlubang seukuran badan manusia, mereka melihat tubuh orang-orang yang berada di dalam batu berwarna agak hitam dan kemerah-merahan karena bekas disambar petir itu.
Kemudian mereka berusaha untuk mengeluarkannya, namun hanya mampu sebatas kepala dan bahu yang keluar, karena lubang tersebut perlahan-lahan menyempit kembali, sehingga terpaksa didorong ke dalam lagi agar tidak terjepit.
Semua warga bergantian kembali memahat kedua gundukan batu itu, tetapi sesudah lubang sebesar tubuh manusia, kembali menyempit dan hanya tersisa sebesar kepalan tangan. Mereka pun jadi putus asa. Sementara itu sebagian warga balik ke dusun mengambil makanan dan mengabarkan kejadian itu kepada warga yang lain.
Seorang warga bertanya lewat lubang pada mereka yang berada dalam gundukan batu yang terbesar : “Hei pahari (saudara) apa gerangan sebabnya hingga terjadi seperti ini ?”
“Entahlah, aku pun tidak tahu. Hanya kudengar suara kedua anakku yang berteriak meminta kami semua untuk pulang ke gubug. Aku tak sempat menanyainya, ketika hampir sampai ke gubug kami disambar petir dan terkurung dalam batu seperti ini. Coba kalian tanya saja pada anakku”, kebetulan yang menjawab adalah ayah kedua anak itu sendiri.
Sambil menangis dan berteriak-teriak kedua anak yang terkurung di gubug yang kini telah berubah menjadi batu menceriterakan asal mula kejadiannya. Maka tahulah mereka bahwa keluarga tersebut saluh (tubuh atau tempat di sekitar seseorang berubah menjadi batu) kena kutukan jin penunggu hutan sekitar tempat itu.
Warga berdatangan membawakan makanan, namun hanya bisa diletakkan di depan lubang, dan mereka yang berada di dalam kedua gundukan batu itu hanya dapat mengambilnya dengan mengulurkan tangannya.
Sanak saudara dari keluarga kedua anak itu dan warga dusun silih berganti menunggu di depan lubang batu, sambil mengadakan rangkaian upacara ritual serta membuat kotak atau rumah kecil dengan satu tiang di depan lubang pada kedua batu tersebut, sebagai tempat meletakkan makanan. Hari berganti hari dan setelah beberapa minggu kemudian, tidak terdengar lagi suara tangisan dari dalam kedua gundukan batu itu.
Keluarga mereka dan segenap warga dusun menganggap bahwa mereka yang ada di dalamnya sudah meninggal semua. Seluruh warga dusun dan terlebih-lebih keluarga dua anak tadi berkabung sangat sedihnya, dan kabar ini pun tersebar hingga ke desa-desa tetangga.
Di depan kedua lubang batu tersebut dibuat keramat tempat menaruh sesajen, sementara di kampung pada setiap rumah warga dusun yang anggota keluarganya ikut saluh saat handep haruyung itu, dibuatkan sapundu (patung kayu) sesuai jumlah orang yang terkurung dalam bongkah batu tersebut.
Bukit di seberang dusun dimana terletak kedua bongkahan batu itu dinamakan bukit Sakajang, dan sampai sekarang keluarga keturunan yang saluh dalam batu itu tetap memberikan sesajen di dalam keramat sebagai bentuk rasa duka dan belasungkawa yang tiada habisnya.
Warga dusun itu yang lama kelamaan berkembang menjadi sebuah desa menamakan tempat mereka itu Sapundu Hantu (dalam bahasa Dayak Ngaju hantu berarti mayat) sampai sekarang. Desa Sapundu Hantu kini termasuk dalam wilayah kecamatan Seruyan Hulu kabupaten Seruyan..
Di kutip dari grup fb

Jumat, 06 September 2024

Sejarah Panglima Batur

Kisah pahlawan di kalimantan
PANGLIMA BATUR.
Bukan sekedar nama jalan yg terkenal.
Panglima Batur (lahir di Buntok Baru, Barito Utara, Kalimantan Tengah pada tahun 1852 - meninggal di, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 Oktober 1905 pada umur 53 tahun)adalah seorang panglima suku Dayak Bakumpai dalam Perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito, sering disebut Perang Barito, sebagai kelanjutan dariPerang Banjar. Panglima Batur adalah salah seorang Panglima yang setia pada Sultan Muhammad Seman. Panglima Batur seorang Panglima dari suku Dayak yang telah beragama Islam berasal dari daerah Buntok Kecil, 40 Km di udik Muara Teweh.
Gelar Panglima khusus untuk daerah suku-suku Dayak pada masa itu menunjukkan pangkat dengan tugas sebagai kepala yang mengatur keamanan dan mempunyai pasukan sebagai anak buahnya. Seorang panglima adalah orang yang paling pemberani, cerdik, berpengaruh dan biasanya kebal.
Panglima batur berjuang bersama sultan banjar sultan muhammad seman yg berjuang mempertahankan benteng manawing.
Beliau
Di kota Banjarmasin, dia diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati. Pada tanggal 15 September 1905 Panglima Batur dinaikkan ke tiang gantungan. Permintaan terakhir yang diucapkannya dia minta dibacakan Dua Kalimah Syahadat untuknya. Dia dimakamkan di belakang masjid Jami Banjarmasin, tetapi sejak 21 April 1958 jenazahnyadipindahkan ke kompleks Makam Pahlawan Banjar di komplek pemakaman pangeran antasari sei jingah.
Di kutip dari sumber grup fb

Kamis, 05 September 2024

Legenda Bawi Kuwu

 konon sekitar abad ke-18, di sebuah kampung sekitar pertengahan aliran Sungai Rungan tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit,
tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya.
Ketika beranjak dewasa wanita cantik itu
dilarang orangtuannya untuk keluar rumah dan
lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam
kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia
mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun
lamanya.
Pada suatu ketika, kedua orangtua Bawi Kuwu
ingin pergi keladang lalu berpesan kepada
dayang-dayang untuk menjaga anak
kesanyangan mereka itu di dalam rumah. tidak
lama setelah kedua orangtuannya itu pergi, tiba-
tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan ingin
madi di Sungai Rungan yang letaknya tidak jauh
dari rumah mereka, tentu para dayang yang
mengawal Bawi Kuwu melarangnya untuk keluar
rumah, apalagi untuk pergi sendiri ke sungai.
Lalu dayang-dayang itu mengambilkan air
kesuangai Rungan untuk memandikan Bawi
Kuwu di dalam rumah, tetapi keinginan dari
para dayang itu ditolaknya dan tetap bersikeras
untuk pergi sendiri kesuangai itu. Suasana
hampir tidak terkendali tetapi akhirnya para
dayang berhasil mencegah keinginan Bawi Kuwu
tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, rupanya
perlakuan dari para dayang itu malah membuat
Bawi Kuwu merasa penasaran. Setelah melihat
situasi aman dan lepas dari pengawalan, Bawi
Kuwu pergi ke Sungai Rungan dengan diam-diam
tanpa ada yang tahu.
Sesampainya di tepi sungai, tepatnya diatas
Lanting (rakit dari kayu dalam bahasa suku
dayak) kejadian naas menimpa gadis cantik itu.
Tiba-tiba buaya besar muncul ke permukaan air
dan menyambar Bawi Kuwu yang belum sempat
mandi di sungai itu, lalu membawannya ke
sarangnya di dalam sungai. Sementara itu situasi
di dalam rumah geger setelah para dayang
menyadari bahwa Bawi Kuwu tidak ada didalam
kamar.
Kemarahan besar muncul dari kedua orangtua
Bawi Kuwu kepada dayang-dayang, karena telah
lalai sehingga mereka tidak mengetahui kemana
perginya anak kesayangan mereka itu. Lalu hari
itu juga mereka memanggil para tokoh adat dan
orang-orang yang memiliki kesaktian dari suku
dayak.
Tiga hari tiga malam lamanya, mereka
mengadakan ritual dalam suku dayak untuk
mencari Bawi kuwu, dan pada suatu malam,
saudara laki-laki dari Bawi Kuwu bermimpi
bertemu dengan Patahu (orang gaib suku dayak)
dan memberikan petunjuk bahwa Bawi Kuwu
masih hidup dan sekarang berada didalam perut
buaya yang telah membawannya itu. Orang gaib
itu juga berpesa apabila buaya itu muncul,
jangan sekali-kali membunuhnya. Lalu
saudarnya itu terbangun dari tidur dan
menceritakan tentang mimpinya itu.
Ketika itu juga mereka mencari Pangareran
(Pawang buaya dalam bahasa suku dayak), dan
tepat pada hari ketiga dalam ritual itu, buaya
yang membawa Bawi Kuwu muncul dari Sungai
Rungan lalu bergerak menuju daratan. Setelah
melihat buaya besar itu datang, tiba-tiba rasa
sedih bercampur amarah muncul dari saudara
laki-laki Bawi Kuwu. Mungkin karena begitu
menyayangi adiknya membuatnya kalap dan lupa
akan pesan orang gaib yang menjumpainya
didalam mimpi, lalu ia menombak buaya itu
sehingga akhirnya mati.
Setelah melihat kejadian itu, mereka langsung
membelah perut buaya dengan peralatan
seadanya dan mendapati Bawi Kuwu yang juga
sudah tidak bernyawa lagi, mati bersama-sama
dengan buaya itu. Akhirnya suasana duka
menyelimuti seluruh kerabat dan semua yang
menyaksikan peristiwa itu.Hingga sampai saat ini tulang belulang Bawi Kuwu msh tetap tersimpan di sebuah sandung kayu bermotif buaya ,terletak di jalan Bawi Kumbu ,kelurahan mangku baru ,kecamatan rakumpit kota palangkaraya..TamaT.

Minggu, 01 September 2024

LEGENDA BATU SULI"( Kalimantan Tengah )

Cerita ini angkat dari kisah nyata
Legenda Batu Suli dipercayai oleh masyarakat Dayak Ngaju dan Ot Danum benar-benar pernah terjadi. Menurut cerita orang-orang tua, dahulu kala sebuah tebing batu yang disebut batu Suli pernah roboh sehingga menutup hubungan lalu-lintas ikan dari Kahayan Hulu ke Kahayan Hilir.
Kejadian ini sungguh tidak mengenakan bagi bangsa Ikan, dahulu mereka mempunyai kekerabatan dan sanak saudara di Kahayan Hulu atau sebaliknya di Kahayan Hilir. Lama kelamaan keadaan itu tidak tertahankan lagi bagi bangsa Ikan, meraka merasa seperti terpenjara akibat putusnya aliran sungai Kahayan itu. Mereka benar-benar tersiksa aikbat peristiwa tebing longsor itu.
Masalah besar bangsa ikan itu harus dicarikan pemecahannya. Untuk menanggulanginya, kemudian para ikan berkumpul dan mengadakan musyawarah besar di Sungai Kahayan. Musyawarah besar bangsa ikan itu akhirnya menghasilkan keputusan yaitu untuk menegakkan kembali tebing yang telah roboh itu.
Akhirnya pada hari yang telah disepakati ribuan bangsa ikan berkumpul untuk bersama-sama menegakkan tebing yang menghambat sungai Kahayan itu. Ikan tapa sesuai dengan hasi musyawarah ditunjuk sebagai mandor. Pekerjaannya mengharuskan ia terus-menerus berteriak-teriak secara lantang agar semangat para pekerja bangsa ikan itu selalu tinggi. Sementra ikan pipih sesuai hasil musyawarah juga diberi tugas untuk memanggul tebing yang roboh itu di atas punggungnya yang pipih.
Begitulah kerja keras bangsa ikan itu pun berlangsung sampai berhari-hari lamanya. Ahirnya berkat usaha keras segenap bangsa ikan itu, tebing Batu Suli dapat ditegakkan kembali seperti sedia kala. Tentu saja hasil keras itu disambut dengan rasa bahagian oleh segenap bangsa ikan. Perasaan terpenjara sekian lama akhirnya bisa bebas lagi, dan bangsa ikan pun dapat kembali saling berhubungan antara di Kahayan hilir dan Kahayan hulu.
Namun, rupanya hasil keras itu harus ditebus mahal oleh bangsa ikan yang terlibat dalam pekerjaan besar itu. Setiap ikan yang turut mengambil bagian dalam pekerjaan itu, harus menanggung akibat pekerjaan besar itu. Sebagai contohnya, keturunan ikan tapa, misalnya, karena kakeknya dahulu terlalu banyak membuka mulut untuk berteriak-teriak dalam tugasnya sebagai mandor, maka kini semua anak keturunannya memiliki mulut yang berukuran besar.
Sementara keturunan ikan pipih, karena kakeknya harus memanggul tebing yang sangat berat itu, punggungnya bungkuk dan tulangnya hancur. Maka kini semua keturunan ikan pipih mempunyai punggung yang bungkuk dan tulangnya yang halus-halus.
Di kutip dari grup fb

tentang sangumang kalteng

Penunggu gaib kalimantan
Sangumang dan Maharaja adalah salah satu cerita rakyat yang berkembang di daerah Kalimantan Tengah. Cerita ini di satu sisi menggambarkan kisah seorang pemuda yang berkeinginan untuk menjadi pasangan dari salah seorang putri pamannya sendiri dan ia sosok pemuda yang cerdas. Pada sisi yang diceritakan juga sosok paman yang tolol sehingga mudah terhasut untuk melakukan sesuatu walaupun membahayakan dirinya. Cerita ini juga terdapat dua kisah ketololan sang paman (Maharaja). Pertama ketika Sangumang pergi bermain ke rumahnya, Sangumang berkeinginan untuk meminta babi kepada sang paman, oleh karena sang paman ini tergolong orang yang kikir, maka ia menyiasatinya dengan menceritakan tentang mimpinya agar pamannya mengorbankan seekor babi. Akhirnya pamannya melakukan apa yang menjadi mimpi Sangumang. Ketika ia sadar bahwa ia ditipu oleh Sangumang, dia berniat membalas agar Sangumang juga mengorbankan babinya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, bukannya ia mendapat apa yang menjadi niatnya sebaliknya ia harus merelakan putri bungsunya dipersunting oleh Sangumang. Demikian juga pada kisah kedua berhasil mengelabui hantu dan mengambil ikan hasil tangkapan hantu. Ia menceritakan perjalanannya kepada sang paman dan tanpa mendengar dengan cermat lalu iapun bergegas hendak mencuri ikan tangkapan sang hantu. Bukannya kenikmatan yang didapatnya melainkan sial yang didapatinya. Cerita ini memberikan pesan bahwa hidup ini harus dijalani dengan baik, santun kepada orang tua, tidak memaksakan kehendak dan tidak boleh kikir.
Hingga kini sangumang dipercaya masih bisa penampakan diri dengan wujud apa saja, biasanya kemunculan sangomang pasti akan membawa rejeki atau suatu yang bertuah seperti salah satu contoh batu bertuah yang di miliki pisor di kalimantan tengah pada gambar dibawah ini.

Kamis, 29 Agustus 2024

hantuen/kuyang kalimantan

Kisah kuyang atau hantuen kalimantan
Hantuen adalah jenis makhluk halus
yang sulit didefinisikan, karena
hantuen bukan merupakan “spesies”
tapi “family” dari kelompok makhluk
halus yang suka mengganggu
manusia yang “lamah bulu’ atau sensitif terhadap gangguan makhluk
halus. Hantuen bisa jadi penghuni pohon
keramat tertentu, goa tertentu,
gunung tertentu, jurang tertentu atau
rumah tua tertentu. Kelompok Jin,
gendorowo, dan sebagainya
merupakan kelompok Hantuen. Ada 3 karakter dari hantuen ini, yang
pertama adalah hantuen yang cuek
bebek dengan aktivitas manusia,
konon mereka hanya akan
“menegur” manusia jikamengganggu
alam mereka. Karakter kedua adalah karakter jahil, suka menakut nakuti
manusia dan bisa menampakkan diri
walaupun tidak lama. Namun orang
dengan Indera ke -6 dan Ke-7 dapat
melihat jenis jenis hantuen ini.
Karakter ketiga dalah karakter red/ merah adalah jenis yang kalau
terganggu akan berbuat brutal dan
konon bisa meminta tumbal nyawa. Dalam dunia Belian, Hantuen Karakter
1 dan 2 kadang bisa dipanggil oleh
“pawang” atau wadian untuk diminta
tolong menyembuhkan sesuatu
penyakit atau keluhan lainnya.
Tempat tempat yang dihuni oleh Hantuen karakter 1 dan 2 ditandai
dengan kain atau bendera kuning,
biasa terdapat di muara sungai,
tikungan sungai, pohon tua, kuburan
tua tanpa nama, gunung, batu dan
sebagainya. Hantuen jenis Red atau merah atau
karakter 3, adalah jenis makhluk
halus yang sangat enggan diganggu
manusia, dipanggil, atau diusik usik,
karena “mereka” akan murka.
Menurut Hikayat jenis merah adalah kasta tertinggi, dan bisa
memerintahkan, atau menghukum
yang jenis kuning (karakter 1 dan 2).
Pemanggilan Hantuen merah hanya
bisa dilakukan dalam upacara besar
sekelas “manyanggar” dalam bahasa Dayak Ngaju. “mereka” disediakan
tempat sesajen atau “meja makan”
tersendiri, terpisah dan spesial,
lengkap dengan kain merahnya, tidak
boleh digabung dengan kategori
kuning. Seorang belian yang saya wawancara
menolak keras untuk menjawab
ketika saya tanya bagaimana cara
“mengusir” jenis hantuen ini. Menurut
beliau keahlian ini hanya dimiliki oleh
mereka yang berstatus wadian atau belaian atau orang pintar, yang hanya
diperoleh dengan lelaku dan tapa/
itampadi tertentu.

Cara mengatasi bootloop android 2019

Cara memperbaikinya :
Jika Anda mengalami hal ini, karena  jenis bootloop masih tergolong ringan. Maka Anda bisa memperbaikinya dengan mengeluarkan baterai ponsel android dan memasangnya kembali. Setelah itu coba restart ponselnya, dan biasanya dengan cara itu ponsel android bisa booting normal.

Bootloop Medium Android
Masalah bootloop android yang satu ini biasanya terjadi karena aktivitas pengguna yang sering bermain-main dengan fitur-fitur android dan masuk ke dalam sistem recovery. Seperti yang kita ketahui penyebabnya  adalah sistem recovery  yang digunakan untuk rooting di ponsel salah dalam menjalankanya. Maka akan mengakibatkan bootloop. Sebenarnya kerusakan ini termasuk bootloop dengan jenis menengah karena semua bisa kita perbaiki dengan masuk ke system recovery pada ponsel untuk re-backup.
Untuk masuk ke recovery sendiri kita bisa menekan tombol power dan volume - secara bersama.

Cara memperbaiki: Cara mengatasi jenis bootloop menengah ini kita membutuhkan Laptop atau PC sebagai media backup data recovery gambar  dan recovery file CWM atau original. Dengan cara ini bisa berhasil jika sudah pernah backup data ROM di hp. Tapi jika Anda belum pernah mencadangkan data ROM-nya, maka Anda bisa mencari data recovery khusus untuk tipe ponsel  tersebut di google. Karena jika datanya tidak sama pasti tidak akan di restore seperti sebelumnya.

Android Hard Bootloop
Bootloop Android yang keras yang biasanya terjadi karena aktivitas kita saat ini Stock ROM yang berbeda. Upgrade sistem operasi atau saat mengkompilasi APK yang salah. Jadi kegiatan ini juga bisa mengakibatkan  bootloop di ponsel yang kita gunakan. Ciri khasnya saat ponsel dinyalakan tidak bisa masuk menu utama dan tidak bisa diputar lagi alias kemacetan total.

Cara Memperbaiki: Karena kasus kerusakannya cukup parah, maka cara memperbaiki  hp bootloop tersebut harus menggunakan perangkat laptop atau PC.  Jadi laptop yang akan kita gunakan untuk memperbaiki juga harus di instal dengan aplikasi khusus untuk penginstalan ulang android OS atau untuk melakukan Flasing Rom (firmware).  Untuk melakukan flashing  ada caranya memasang masing-masing di  OS android yang bervariasi tergantung merk dan tipe ponsel itu sendiri.

Bootloop atau kegagalan booting pada hp android sebenarnya adalah salah satu masalah yang sering terjadi. Biasanya masalahnya bisa terjadi karena hp gagal meng-upgrade sistem. Dan ada juga yang salah dalam menggunakan firmware android dan bahkan bootloop bisa terjadi saat kita melakukan root namun gagal.

Jadi saat restart atau dinyalakan hanya bisa menampilkan logo atau merek teleponnya saja. Hal ini akan terus berulang-ulang meskipun telah direstart berkali-kali. Harus di perhatikan jika ingin melakukan root pilihlah firmware yang benar-benar compatable dengan merk dan tipe handphone agar tidak terjadi bootloop, serta kondisi batrey harus 50% keatas untuk berjaga agar hp tidak matot(mati total).oke sekian dari saya terima kasih. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kamis, 05 September 2019

Belajar bahasa Dayak part 2

Bahasa dayak-indonesia
Sarita metu -Tentang hewan
Pusa-kucing
Asu-anjing
Manuk-ayam
Bajawak-biawak
Bajai-buaya
Balawau-tikus
Bakei-monyet
Sangahau-kadal
Tasak-cicak
Bawui-babi
Bajang-rusa
Palanduk-kancil
Kelep-kura kura
Bere-penyu
Bahuang-beruang
Sekian.
apabila ada kekurang dalam daftar ini.silahkan tanya di komentar.
Terimakasih.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Belajar bahasa dayak

Indonesia=dayak
Apa =narai
Selamat pagi =selamat hanjewu
Selamat siang=selamat bentuk andau
Selamat malam=selamat hamalem
Tidak =diya
Aku cinta kamu =aku handak dengam
Berapa=pire
Pulang=buli
Apa kabar=narai kabar.
Apa yang kalian tanya tentang terjemahan b.dayak silakan tanya di kolom komentar.
Terimakasih

Asal Sejarah Tjilik Riwut

Pahlawan kalimantan

KISAH SAKTI PEMIMPIN DAYAK
Tjilik Riwut, Gubernur Kalimantan Tengah, 1958 – 1967, dikenal sebagai Pahlawan Nasional, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia, Baharudin Jusuf Habibie, Nomor 108/TK/1998, tanggal 6 November 1998.
Warga Dayak Ngaju kelahiran Kasongan, Ibu Kota Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918, dan meninggal dunia di Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987, dalam usia 69 tahun.
Saat pergantian kepemimpinan nasional, dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto, dampak Gerakan 30 September (G30S) 1965, Tjilik Riwut masuk dalam 7 orang gubernur di Indonesia diberhentikan di tengah jalan, lantaran dinilai sebagai orang dekat Soekarno atau Soekarnois.
Tujuh gubernur Soekarnois, selain Tjilik Riwut, adalah Gubernur Kalimantan Barat, Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray, Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Henk Ngantung, Gubernur Lampung Pagar Alam, Gubernur Jawa Tengah, Mochtar, Gubernur Sumatera Utara Brigjen TNI Oeloeng Sitepu dan Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja.
Dua di antaranya mengalami nasib paling tragis. Oeloeng Sitepu, melalui aksi demonstrasi dimotori Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) bekingan Central Intelijen Agency (CIA) Amerika Serikat, ditangkap massa tanggal 16 November 1965, dan sampai sekarang tidak diketahui nasibnya selama di dalam penjara.
Anak Agung Bagus Sutedja, dalam rangka tugas khusus di Jakarta, dijemput empat pria berseragam Tentara Nasional Indonesia (TNI AD) di kediamannya di Jakarta, 29 Juli 1966, dan sampai sekarang tidak jelas keberadaannya.
Tujuh gubernur Soekarnois, menjadi korban kriminalisasi politik Pemerintahan Presiden Soeharto sebagai boneka Amerika Serikat, bukan karena terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI), melainkan sema-mata lantaran sebagai pengikut setia Soekarno atau Soekarnois.
Dalam perkembangan selanjutnya, Tjilik Riwut dan J.C. Oevaang Oeray, tidak mengalami nasib lebih tragis, berkat bantuan dan perlindungan politik rekan seperjuangan, Fransiskus Conradus Palaoensoeka, asal Putussibau, Kalimantan Barat.
F.C. Palaoensoeka, setelah G30S 1965, dekat dengan kalangan militer dan Presiden Soeharto, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 1949 – 1988, tokoh integrasi Timor Timur, staf ahli Badan Intelijen Negara (BIN), 1975 – 1982.
Setelah Partai Persatuan Dayak (PPD) di Kalimantan Barat resmi dibubarkan 1960, Palaunsuka, bergabung dengan Partai Katolik yang kemudian fusi ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Tjilik Riwut, ayah 6 anak hasil perkawinannya dengan Clementie Suparti, adalah tokoh intelijen bersama Letkol Zulkifli Lubis paling berpengaruh di awal kemerdekaan, karena atas bantuan logistik dari Pemerintah Jepang, paling berjasa membubarkan Republik Indonesia Serikat (RIS) atau federal di Kalimantan.
Saat masih menyandang pangkat mayor TNI AD, Tjilik Riwut menghadap Presiden Soekarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1947, untuk menyampaikan kesetiaan masyarakat Suku Dayak di Kalimantan, kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebagai bukti kesetiaannya, Tjilik Riwut, atas perintah Presiden Soekarno lewat Letkol Zulkifli Lubis, masuk daftar tim operasi intelijen pembubaran RIS ke daerah masing-masing. Ke Sumatera antar lain ditugaskan MS Rasjid.
Kalimantan ditugaskan Moeljono dan Tjilik Riwut (di Tumbang Sambas, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah), Sulawesi ditugaskan Warsito dan Wolter Monginsidi. Maluku ditugaskan Ibrahim Saleh, Yos Sudarso, Muljadi, Moerwanto, Isbianto, Anton Papilaya.
Nusa Tenggara dtugaskan Soerjadi alias Paiman. Bali ditugaskan Bambang Soenarjo dan Jahja Jasin.
Dalam memuluskan operasi intelijen, Mayor Tjilik Riwut memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), di Tumbang Samba, Kalimantan Tengah, 17 Oktober 1947.
Sebagai penduduk asli Kalimantan, Tjilik Riwut menggelar ekspedisi ke seluruh wilayah, meyakinkan masyarakat bahwa Indonesia sudah merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945.
Dua tahun menggelar operasi intelijen Tjilik Riwut di Kalimantan, membuat perjanjian Indonesia dengan Belanda, bahwa Indonesia diakui sebagai negara merdeka dalam bentuk RIS, 27 Desember 1949, akhirnya hanya bisa bertahan 6 minggu.
Minggu ke tujuh usia RIS, aksi demonstrasi segenap lapisan masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk di Kalimantan, cukup marak, mendukung kemerdekaan dan menolak RIS bentukan Belanda.
Simbol RIS runtuh, setelah Kepala Daerah Khusus Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) dan Menteri Zonder Fortolio, Sultan Hamid II ditangkap atas tuduhan terlibat pemberontakan Westerling di Jakarta, 5 Agustus 1950.
Penangkapan Sultan Hamid II, membuat Presiden Soekarno, berkat operasi intilijen Zulkiflik Lubis, dan dimana Tjilik Riwut berada di barisan terdepan di Kalimantan, lebih leluasa mengumumkan pembubaran RIS dan Indonesia resmi berbentuk republik, negara kesatuan, terhitung 17 Agustus 1950.
Dalam perkembangan selanjutnya, atas saran Tjilik Riwut pula, J. C. Oevaang Oeray, selaku anggota Badan Pemerintahan Harian DIKB, menggiring masyarakat Suku Dayak bergabung dengan NKRI, tahun 1950. J.C. Oevaang Oeray kemudian melalui PPD, menjadi Gubernur Kalimantan Barat, 1959 – 1966.
Tahun 1958, Tjilik Riwut kemudian ditetapkan menjadi Gubernur Kalimantan Tengah. Tapi perubahan situasi politik di dalam negeri, membuat Tjilik Riwut yang sudah menyandang pangkal kolonel TNI AD, nyaris beku tembak dengan Pangdam XII/Tambun Bungai, Brigjen TNI Agus Siswandi.
Insiden nyaris baku tembak, lantaran Tjilik Tjiwut mengetahui, tanggal 18 Oktober 1965, Wali Kota Palangka Raya, Yanti Saconk, hilang tidak diketahui nasibnya sampai sekarang.
Kehilangan Yanti Saconk disinyalir Tjilik Riwut sebagai korban penuclikan TNI AD sebagai bentuk pembersihan terhadap sejumlah pihak yang dituding sepihak terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).
“Mana Yanti Saconk? Apa sudah kalian bunuh? Saya sudah cari ke sana ke mari di lokasi tahanan, Yanti Saconk, tidak ditemui!” tanya Tjilik Riwut.
Mendapat pertanyaan menohok, Brigjen TNI Agus Siswandi balik menantang,
“Saya pimpinan militer di sini!”
“Saya Gubernur Kalimantan Tengah! Saya berhak tahu rakyat saya dalam kondisi apa! Apalagi Yanti Saconk Wali Kota Palangka Raya!” jawab Tjilik.
Mendengar jawaban menandatang, dalam suasana tegang, Agus mencabut pistol di pinggang untuk menembak Tjilik.
“Saya Gubernur Kalimantan Tengah! Saya berhak tahu rakyat saya dalam kondisi apa! Apalagi Yanti Saconk Wali Kota Palangka Raya!” jawab Tjilik.
Mendengar jawaban menandatang, dalam suasana tegang, Agus mencabut pistol di pinggang untuk menembak Tjilik.
Dalam benak Agus, Gubernur Kalimantan Tengah salah satu pejabat yang harus dihabisi. Karena sudah bertatap muka, langsung, dalam pikiran Agus Siswandi, merupakan kesempatan untuk membunuh Gubernur Tjilik.
Pertimbangan Tjilik mesti dibunuh karena merupakan salah satu dari 7 gubernur Soekarnois yang harus dilenyapkan. Melihat gelagat Agus akan menembak, Tjilik balas menghardik sambil mencabut pistol di pinggang. Tjilik melemparkan pistol miliknya ke Agus yang duduk berhadapan.
“Pakai pistol saya! Tembak saya sekarang kalau kamu berani! Pistolmu tidak akan meledak!” hardik Tjilik.
Suasana sangat dramatis. Karena sama-sama perwira, kekuatan nyali diuji. Agus setelah betul-betul sadar pistolnya tidak bisa meledak, secara refleks mengambil pistol yang dilemparkan Tjilik di atas meja.
Pistol langsung diarahkan ke bagian dada Tjilik, tapi tetap saja tidak bisa meledak. Nyali Brigjen TNI Agus tiba-tiba ciut, setelah dua pistol tidak meledak, untuk menghabisi nyawa Gubernur Tjilik Riwut.
Apalagi saat bersamaan, ratusan massa pendukung Gubernur Tjilik Riwut diketahui mengepung Makodam XI/Tambun Bungai di Palangka Raya.
Melihat muka Agus pucat-pasi, Gubernur Tjilik mengingatkan, agar TNI AD di Provinsi Kalimantan Tengah, tidak sembarangan tangkap dan bunuh, selagi seseorang tidak ditemukan terbukti terlibat PKI.
Gubernur Tjilik balik mengancam Pangdam XI/Tambun Bungai itu akan terjadi perlawanan rakyat sangat luar biasa dan masif di Provinsi Kalimantan Tengah, apabila TNI AD, terus melakukan tindakan brutal.
Saat bersamaan, Tjilik menunjuk muka Pangdam XI/Tambun Bungai, harus ikut bertanggungjawab di balik tindakan penculikan dan pembunuhan Wali Kota Palangka Raya, Yanti Saconk, 18 Oktober 1965.
Sampai sekarang masyarakat di Palangka Raya, sangat yakin Yanti Saconk memang korban penculikan dan pembunuhan TNI AD, karena sampai sekarang tidak diketahui nasibnya.
Tjilik Riwut, setelah diberhentikan menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, akibat dicap sebagai Soekarnois, Februari 1967, kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi Marsekal Pertama TNI Angkatan Udara.
Penghargaan berupa kenaikan pangkat istimewa kepada Tjilik Riwut, karena operasi intelijen terjung payung di Tumbang Sambas, 17 Oktober 1947, dinyatakan sebagai hari ulang tahun Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU.

Minggu, 07 April 2019

Panglima burung (dayak)

Pahlawan kalimantan

Ye"HIKAYAT PANGLIMA BURUNG ( BULAN JIHAD)"
Hikayat Panglima Burung justru menjadi sangat mencuat tatkala terjadi kerusuhan etnis tahun 2001 di Kalimantan Tengah. Saat itu Panglima Burung sebagai tokok gaib Dayak benar-benar dijadikan sandaran dalam menghadapi serangan etnis tertentu dari seberang. Apa boleh buat, sesuatu yang telah dilupakan menjadi bangun ke alam nyata. Lalu siapa Panglima Burung dan bagaimana latar belakang ketokohannya? Inilah sebagian kecil jawabannya, jawaban dari versi Suku Dayak yang mendiami DAS Barito.
Kerusukan etnis yang mulai pecah sejak 18 Pebruari 2001 di Sampit memaksa Panglima Burung hadir dan membantu warga suku Dayak berperang dan mengusir warga etnis Madura. Sebagai Panglima besar, tentu saja Panglima Burung tidak turun sendiri tetapi membawa sejumlah pengawal alias Pasukan Khusus. Kata Abdul Hadi Bondo Arsyad, seorang Temanggung Dayak dari Tumbang Senamang, Katingan Hulu, “Panglima Burung muncul dengan membawa 87 orang pasukan khususnya”. Kata Kiyai Haji M. Juhran Erpan Ali, Ketua Pondok Pesantren Ushuluddin, Martapura, “Panglima Burung (adalah) seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Selain itu ia juga bergelar hajjah”
Disamping Panglima Burung sebagai panglima tertinggi Dayak, rusuh Sampit juga menurunkan beberapa tokoh legenda alam gaib lainnya seperti Panglima Palai, Panglima Api, Panglima Angsa, Panglima Hujan Panas, Panglima Angin dan beberapa panglima sakti lainnya. Yang pasti dari beberapa panglima itu terdapat dua panglima wanita cantik yakni Panglima Burung dan Panglima Api.
Dan kembali kepada keberadaan Panglima Burung yang legendaris, kata Kiyai Haji M. Juhran Erpan Ali (56), “Keberadaannya memang nyata, berwujud seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Panglima Burung sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk”. Namun begitu, yang mengejut­kan dari penuturan Kiyai Juhran ini adalah karena sosok Panglima Perang Suku Dayak ini juga beragama Islam dan menyandang titel seorang hajjah.
WA Samat dan Adonis Samat bertutur bahwa pahlawan cantik tersebut keberaniannya luar biasa sekali. Salah satunya adalah saat berperang mendampingi Gusti (Ratu) Zaleha dalam Perang Barito. “Amuk Barito itu terjadi pada tahun 1900-1901, dimana suku-suku Dayak Dusun, Ngaju, Kayan, Kinyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu Sungai, baik yang beragama Islam atau pun Kaharingan bersatu bahu membahu menghadapi
serangan Belanda. Nama-nama pahlawan Banjar seperti Pangeran Antasari Gusti Muhammad Seman dan Gusti Ratu Zaleha selalu bersanding bahu membahu dengan (para pahlawan Dayak seperti) Temanggung Surapati, Antung, Kuing, Temanggung Mangkusari dan lain-lain yang merupakan kesatuan kekuatan dalam perjuangan”.
Dalam rentang perjuangannya melawan kolonialisme Belanda, Panglima Burung yang sangat cantik ini memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. “Ada yang menyebutnya “Ilum” atau “Itak” namun nama populernya adalah “Bulan Jihad”. Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya.
Dan kita ketahui bahwa Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan dengan semboyannya (yang terkenal): “Haram Manyarah, Waja Sampai ka Puting”.
Tjilik Riwut membenarkan keberadaan srikandi Dayak itu tetapi menurut beliau Bulan Jihad (bukan asli Dayak Kalteng tetapi) berasal dari Suku Dayak Kinyah (Kaltim). Yang pasti, “nama Bulan Jihad sangat terkenal diantero Barito Hulu dan Barito Selatan”, imbuh Tjilik Riwut. “Dia pendekar sakti mandraguna, punya ilmu kebal tahan senjata, bisa menghilang dan (mampu) melibas lawan hanya dengan selendang saja. Dia selalu berjuang berdampingan dengan Gusti Zaleha si pejuang puteri Banjar”. Dengan demikian maka ceritera yang disampaikan oleh WA Samat dan Adonis Samat (1948) sejalan dengan ceritera Pak Tjilik Riwut (1950).
Tatkala tokoh perlawanan Gusti Muhammad Seman meninggal dunia pada tahun 1905, lalu awal tahun 1906 Gusti Zaleha berkeputusan turun gunung, lantas apa keputusan Bulan Jihad dan sisa prajurit lainnya? Ternyata Bulan Jihad tetap bertekad meneruskan perjuangan dan terus mengembara. Maka terjadilah perpisahan yang sangat memilukan. Dengan berat hati keluarlah Gusti Zaleha dari hutan menuju Muara Teweh dan selanjutnya dia dibawa ke Banjarmasin bersama ibunya Nyai Salmah.
Sejak perpisahan itu, tidak banyak orang yang tahu dimana keberadaan Bulan Jihad dan kelanjutan perjuangannya. Barulah pada tanggal 11 Januari 1954, Bulan Jihad datang melaporkan diri ke Kantor Pemerintahan setempat di Muara Joloi sehingga saat itulah dia baru mengetahui kalau Indonesia sudah merdeka. Hatinya pun semakin luluh begitu mengetahui sahabat karibnya Ratu Zaleha telah lama meninggal dunia (24 September 1953) di Banjarmasin. Hari itu orang kembali melihat pemunculannya dan hari itu pula dia kembali mengembara ke hutan rimba untuk selama-lamanya. Inilah sekilas kisah muslimah Bulan Jihad yang setia berperang mendampingi perjuangan Gusti Puteri Zaleha (1903-1906), bahkan dia terus berjuang melewati masa juang pahlawan anti kolonialis lainnya di tanah Dayak ini.Dari bukti sejarah yang ditunjukkan pendahulu kita menyatakan fakta bahwa kebulatan tekad persatuan, tekad perjuangan melawan penjajahan tertuang jelas di dalam Perang Banjar dan Perang Barito. Saat itu, Pangeran Antasari, Demang Leman, Gusti Muhammad Seman, Temanggung Surapati, Gusti Zaleha, Bulan Jihad, Panglima Batur, Temanggung Mangkusari, Panglima Wangkang dan lainnya, adalah gambaran bersatunya kesatuan suku-suku Dayak Ngaju, Dayak Dusun, Kayan, Kenyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu Sungai, baik yang beragama Islam maupun Kaharingan. Kata Kiyai Juhran Erpan Ali, “(Sejak) masa itu telah ada kesepakatan tekad bahwa suku Dayak dan suku Banjar tidak akan pernah berperang sesamanya sampai kapan pun juga”..

Di kutip dari grup  Fb

Lirik lagu dayak ngaju :Malihi janji(terjemah indonesia)

Tagal haranan duit dan jabatan (Hanya karena duit dan jabatan) Balalu cinta mu bapindah pilihan (Lalu cintamu berpindah-pindah pilihan) Aku ...