Iklan google

Sabtu, 18 Januari 2025

Lirik lagu dayak ngaju :Malihi janji(terjemah indonesia)

Tagal haranan duit dan jabatan
(Hanya karena duit dan jabatan)
Balalu cinta mu bapindah pilihan
(Lalu cintamu berpindah-pindah pilihan)
Aku je susah kalah saingan
(Aku yang miskin kalah saingan)
Tasingkir mundur buhau kan saran
(Tersingkir mundur ke samping)
Danum mata ku mahantis rawu rawu
(Air mataku mengalir deras)
Mamikir ikau je dia ma ingat aku
(Memikirkan engkau yang tak ingat aku)
Janji Satia mu sampai kabakas Ongku
(Janji setiamu sampai engkau tua)
Tapi kenyataan ikau Malihi aku
(Tapi kenyataannya kau tinggalkan aku)
Cinta mu tutu baya hanjulu
(Cintamu hanya sekejap)
Balalu pindah nihau bagetu
(Kemudian pindah hilang terputus)
Ampin kapurum mu Malihi aku
(Begitu teganya dirimu tinggalkan aku)
Pander Satia mu baya tanjaru
(Kata setiamu dusta belaka)
Cinta mu nihau luntur dan tende
(Cintamu hilang, luntur, dan berhenti)
Balalu hancur angat pangkeme
(Kemudian hancur rasa perasaan)
Maniris mahantis danum mate
(Mengiris menetes sudah air mata)
Nyarenan angat atey je kapehe
(Menahan rasa hati yang sakit).
#lagu dayak
#viral dayak

Jumat, 01 November 2024

kisah enam bersaudara di tinggal ayahnya

Alkisah, ada enam bersaudara yang tinggal di sebuah desa kecil, jauh dari keramaian kota. Mereka adalah anak-anak yatim yang ditinggalkan ayahnya sejak si sulung masih kelas 3 SD. Adik bungsu mereka saat itu masih bayi, baru berusia 9 bulan. Sejak kepergian sang ayah, beban hidup keluarga ini ditanggung penuh oleh ibu mereka yang tak pernah lelah bekerja.
Sang ibu menghidupi anak-anaknya dengan bekerja keras di ladang dan menyadap karet. Setiap hari ia bangun subuh untuk berjalan jauh menuju ladang, meninggalkan anak-anak di rumah. Karena harus tinggal dekat ladang agar bisa bekerja sepanjang hari, ibu mereka tak bisa selalu berada di samping keenam anaknya. Karenanya, kakak tertua yang sudah beranjak remaja harus mengambil tanggung jawab besar. Ia mengurus adik-adiknya di rumah, memastikan mereka makan, belajar, dan tetap bersama.
Meski hidup mereka penuh keterbatasan, keenam saudara ini selalu berusaha saling mendukung. Namun, anak-anak di desa sering mengolok mereka karena mereka yatim. Cemoohan itu bukan hanya membuat hati mereka terluka, tetapi juga membuat mereka merasa semakin sulit bertahan di tengah keterasingan. Meski begitu, sang kakak tertua selalu berusaha tegar di depan adik-adiknya.
"Jangan dengarkan mereka. Ayah kita memang sudah tidak ada, tapi kita masih punya ibu yang sangat kuat dan saling memiliki. Kita pasti bisa melewati semua ini kalau tetap bersama," kata si sulung, menyemangati adik-adiknya yang kadang menangis karena merasa berbeda dari teman-teman mereka.
Seiring berjalannya waktu, anak-anak yatim ini belajar mandiri. Setiap hari, mereka saling membantu dalam pekerjaan rumah, bahkan kadang-kadang ikut membantu sang ibu di ladang. Semangat dan tekad mereka membuat hati sang ibu bangga, meski ia tak bisa selalu bersama mereka.
Cerita ini mengajarkan bahwa hidup mungkin membawa ujian berat, tetapi cinta dan kebersamaan mampu memberi kekuatan untuk bertahan. Bagi keenam anak yatim ini, kehilangan ayah bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan mereka untuk saling menjaga dan mendukung sebagai keluarga yang penuh kasih sayang. Meski mereka tak memiliki banyak materi, mereka memiliki satu sama lain, dan itu adalah harta yang paling berharga.
Cerita ini kutip dari grup fb.
😇😇

Senin, 14 Oktober 2024

Cerita Kesultan banjar

Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari kerajaan daha
Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, Menurut Naskah Cerita Turunan Raja Banjar Dan Kotawaringin (Hikayat Banjar Resensi I) sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Kesultanan Banjar berkembang dari pengaruh dan pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha pada abad ke-15. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Raden Samudera, yang kemudian menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Kesultanan Banjar kemudian menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di Kalimantan Selatan selama berabad-abad.
1. Asal Usul Kesultanan Banjar: Kesultanan Banjar berasal dari Kerajaan Negara Daha, sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berkuasa di wilayah Kalimantan Selatan pada abad ke-14 dan ke-15.
2. Pemberontakan: Pada abad ke-15, terjadi pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha yang dipimpin oleh Raden Samudera. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pemerintahan dan kebijakan kerajaan sebelumnya.
3. Sultan Suriansyah: Raden Samudera, setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Negara Daha, mendirikan Kesultanan Banjar dengan dirinya sendiri sebagai Sultan pertama, dengan gelar Sultan Suriansyah. Inilah awal dari Kesultanan Banjar yang mandiri.
4. Perkembangan KESULTANAN BANJAR : Setelah berdirinya Kesultanan Banjar, wilayah kekuasaannya berkembang pesat dan mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Kesultanan Banjar menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di pulau Kalimantan selama berabad-abad.
Dengan demikian, Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, tetapi berkembang menjadi entitas politik dan budaya yang mandiri dengan kekuasaan yang luas di wilayah Kalimantan Selatan.
SEJARAH BUKU-BUKU BAHASA BELANDA ANTARA LAIN :
1. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 1. D. A. Thieme
2. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 2. D. A. Thieme.
3. (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap
4. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog (ed. 2). A.W. Sythoff.
5. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte. Episode uit den Banjermasingschen oorlog. Expeditie tegen de versterking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier; beschrijving der versterking te Goenong Tongka, na de inname; aanteekeningen omtrent Pangeran Hijdaijat ... Tweede, veel vermeerderde ... druk.
6. Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Volume 1
7. Verhandelingen en Berigten Betrekkelijk het Zeewegen Volume 1
8. Jaarboek van het mijnwegen in Nederlandsch-Indië, Volume 17
9. De Voormalige Zelfbesturende En Gouvernementslandschapren In Zuid oost Borneo C Nagtegaal
10. dan lain sebagainya.
Pada tanggal 11 Juni 1860, perjuangan Kesultanan Banjar saat Belanda menghapuskan kedaulatan mereka. Pasukan kolonial mulai berkumpul di sekitar perbatasan, siap untuk melancarkan serangan terhadap kesultanan yang telah lama menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan,markas belanda di martapura dan banjarmasin
pasukan kolonial mulai membakar desa-desa yang terletak di sepanjang perbatasan kesultanan. Api menjilat-ratakan rumah-rumah tradisional, dan teriakan putus asa memenuhi udara saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk, Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.
Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar.
Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami. saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk ditahan.
Pada tahun 3 maret 1862, sultan dan wali sultan di asingkan ke batavia lalu di pindahkan ke Ciankur jawa barat perjuangan Kesultanan Banjar dengan pahit. Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.
Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar. Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami.
PAHLAWAN DARI BANJAR Mamgkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 & Demang Lehman
Kerajaan Banjar merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Kalimantan Selatan, Indonesia. Wilayahnya meliputi sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan, termasuk daerah sekitar Sungai Martapura. Bekas peninggalan kerajaan ini dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar provinsi Kalimantan Selatan, terutama di sekitar wilayah Banjarmasin, ibu kota provinsi tersebut.
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah:
1. Peran dalam Perlawanan:
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.
2. Kepemimpinan dan Pengaruh:
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 memiliki peran yang signifikan dalam memimpin dan memobilisasi masyarakat setempat untuk melawan penjajah, memberikan inspirasi dan dukungan bagi mereka yang berjuang untuk kemerdekaan.
3. Kontribusi pada Masyarakat:
Selain peran Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam perlawanan, Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga memiliki kontribusi yang berarti dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.
4. Representasi Kebudayaan dan Identitas Lokal:
Pengakuan terhadap Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga penting dalam melestarikan dan menghormati warisan budaya dan identitas lokal mereka, yang merupakan bagian integral dari sejarah dan kebanggaan bangsa.
5. Pelajaran Berharga:
Mengabadikan kisah Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam sejarah akan memberikan pelajaran berharga bagi generasi sekarang dan yang akan datang tentang pentingnya perjuangan, kesetiaan, dan keberanian dalam menghadapi penindasan dan penjajahan.
– Demang Lehman layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan kontribusinya dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Peran dan Kontribusi perang Banjar:Demang Lehman:
– Sebagai pemimpin lokal, ia memimpin masyarakat setempat dalam perlawanan, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.dalam perlawanan dengan keberanian dan keteguhan yang luar biasa, menginspirasi generasi berikutnya.
– Kontribusinya tidak hanya dalam perlawanan, tetapi juga dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.Selain mengorganisir perlawanan, dikenal karena upayanya dalam membangun solidaritas dan kesatuan di antara penduduk lokal untuk melawan penindasan.
– Nilai perjuangannya mencakup semangat kebebasan, keadilan, dan pengabdian kepada tanah air, yang merupakan landasan penting bagi kemerdekaan Indonesia.
Peran dan Kontribusi perang Banjar:Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862:
– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 adalah simbol perlawanan bangsawan terhadap penjajah Belanda, dan layak diabadikan dalam sejarah.
– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan pengaruh beliau dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
– Sebagai tokoh aristokrat, beliau memberikan inspirasi dan dukungan bagi masyarakat untuk berjuang demi kemerdekaan.beliau memberikan inspirasi dan kepemimpinan yang kritis dalam memobilisasi masyarakat untuk perlawanan, menunjukkan pengorbanan dan keteguhan yang luar biasa.
– Kontribusi beliau tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga dalam memperkuat identitas lokal dan membangun kesadaran nasional, dalam memperkuat kesadaran nasional dan semangat persatuan di antara bangsa Indonesia.
– Nilai perjuangan beliau mencakup semangat patriotisme, kepemimpinan yang adil, dan semangat untuk mencapai kemerdekaan serta keadilan bagi semua rakyat Indonesia.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Dia dikenal sebagai pejuang yang gigih dalam Perang Banjar pada abad ke-19. Pada masa itu, kerajaan Banjar berada dalam situasi konflik yang intens dengan Belanda yang ingin menguasai wilayah tersebut.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman merupakan salah satu pemimpin militer yang berani dan berbakat dalam mengorganisir pertahanan Banjar.Dia memimpin pasukan Banjar dalam pertempuran melawan pasukan kolonial Belanda. Meskipun menghadapi tekanan dan tantangan yang besar, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman bersama dengan pejuang-pejuang Banjar lainnya berusaha keras untuk mempertahankan kedaulatan dan kebebasan tanah air mereka.
– Perjuangan Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman dan para pejuang Banjar lainnya dalam Perang Banjar memperlihatkan semangat dan tekad yang kuat untuk melawan penjajahan dan menjaga kemerdekaan wilayah mereka. perjuangan mereka tetap diingat sebagai bagian dari sejarah dan warisan perlawanan terhadap penjajahan.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Pada tanggal 3 Maret 1862, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Cianjur, Jawa Barat. Ini merupakan bagian dari upaya Belanda untuk mengendalikan dan mengurangi pengaruh para pemimpin lokal yang dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan kolonial mereka.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan 3 maret 1862 karena peran serta aktifnya dalam perlawanan terhadap kekuasaan Belanda di Banjar. Sebagai seorang wali dan tokoh terkemuka di Banjar, ia memimpin perlawanan terhadap upaya-upaya Belanda untuk menguasai wilayah tersebut. Namun, upaya-upaya tersebut tidak berhasil, dan akhirnya Belanda mengambil tindakan keras dengan mengasingkan Pangeran Wirakusuma ke Cianjur.
– Meskipun diasingkan, Wali Sultan Banjar wafat 6 juni 1901 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman tetap mempertahankan semangat perlawanan dan tekadnya untuk melawan penjajahan Belanda. Meskipun terpisah dari tanah airnya, warisannya sebagai pejuang dan pembela kemerdekaan Banjar tetap dikenang dan dihormati oleh masyarakat setempat. Peristiwa pengasingan ini merupakan bagian penting dari sejarah perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Kalimantan Selatan.
Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II: adalah Putra Raja Pangeran Ratu Abdurrahman bin Sultan Adam Bin Sultan Sulaiman rahmatulah bin sultan Tahmidulah II KESULTANAN BANJAR kalimantan selatan indonesia
Lebih dari itu, Pangeran Wirakusuma juga menjadi motivator dan inspirator bagi pasukannya. Dengan kata-kata yang penuh semangat, beliau mampu menggerakkan hati dan jiwa para prajuritnya, membangkitkan semangat perjuangan dalam diri mereka. Bersama-sama, mereka siap menghadapi segala rintangan demi melindungi tanah air mereka.
Di setiap pertempuran, Pangeran Wirakusuma selalu berada di garis depan, memimpin pasukannya dengan keberanian dan keteguhan hati. Kepahlawanan mereka dalam menghadapi musuh yang kuat dan keberanian mereka dalam menghadapi tantangan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Pengaruh Pangeran Wirakusuma tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Banjar, tetapi juga meluas ke seluruh Indonesia. Namanya diabadikan sebagai simbol kepahlawanan dan keteguhan dalam menghadapi penjajah, menginspirasi banyak orang untuk meneladani semangatnya dalam menjaga dan mempertahankan tanah air. Warisannya dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan keadilan terus mengilhami generasi-generasi berikutnya.
Kisah perjuangan dan pengaruh Pangeran Wirakusuma tetap hidup dalam sejarah Banjar dan Indonesia secara keseluruhan. Namanya terukir sebagai pahlawan yang tidak hanya berani dalam pertempuran, tetapi juga mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebagai pahlawan sejati dan simbol perlawanan terhadap penjajah, Pangeran Wirakusuma akan selalu dihormati dan diingat sebagai teladan bagi kita semua.
Beberapa situs bersejarah yang masih ada dan terkait dengan Kerajaan Banjar antara lain:
1. Istana Kesultanan Banjar: Istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Banjar dan pusat pemerintahan kerajaan. Saat ini, beberapa bekas bangunan istana telah direstorasi dan dijadikan objek wisata sejarah.
2. Makam Kesultanan Banjar: Makam-makam para sultan dan tokoh penting kerajaan Banjar dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar Banjarmasin. Makam-makam ini sering menjadi tempat ziarah dan menjadi peninggalan sejarah yang penting.
3. Museum Wasaka & Lambung Mangkurat: Museum Wasaka di Banjarmasin merupakan tempat yang menyimpan berbagai artefak dan benda bersejarah terkait dengan Kerajaan Banjar, seperti pakaian adat, peralatan kerajaan, dan dokumen-dokumen sejarah.
4. Situs-situs Arkeologi: Beberapa situs arkeologi di sekitar Kalimantan Selatan juga telah mengungkapkan peninggalan sejarah Kerajaan Banjar, seperti artefak-artefak tembikar dan struktur bangunan kuno.
Meskipun banyak peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan, beberapa di antaranya mungkin telah terkubur atau rusak karena faktor alam atau aktivitas manusia. Namun, upaya pelestarian dan pemulihan terus dilakukan untuk menjaga warisan bersejarah ini agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.
Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II, lahir pada tanggal 19 Agustus 1822, adalah wali sultan Banjar yang menjadi kepala pemerintahan berkuasa. Beliau memerintah dari tanggal 3 November 1857 hingga 3 Maret 1862, dan wafat pada tanggal 6 Juni 1901. Beliau diakui sebagai Pahlawan Banjar Kalimantan Selatan.Peran Pangeran Wirakusuma dalam Perang Banjar sangatlah penting. Pada masa-masa awal perang melawan penjajah Belanda, beliau muncul sebagai tokoh utama yang memimpin perlawanan.
Sebagai Wali Sultan Banjar Kerajaan Banjar, beliau memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi kedaulatan tanah airnya. Pangeran Wirakusuma tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga seorang strategis yang ulung. Beliau merancang strategi perang yang cerdas, memanfaatkan pengetahuannya tentang medan dan kekuatan musuh untuk merencanakan serangan yang efektif.
Dengan mengakui dan mengabadikan peran serta kontribusi beliau, kita dapat memastikan bahwa warisan mereka tetap hidup dan dihargai oleh generasi mendatang, serta memberikan inspirasi bagi perjuangan masa depan.
Cerita di kutip dari grup fb.

Sabtu, 12 Oktober 2024

DATU NIHING"

Penunggu gaib kalimantan
Pada zaman bahari, di pegunungan meratus hiduplah seorang datu. Datu Nihing. sewaktu muda beliau suka merantau ketempat yang sangat jauh untuk mencari ilmu. menurut cerita beliau pernah berguru kepada Panglima Burung di pedalaman kalimantan tengah, Panglima Antang di pedalaman kalimantan timur, Panglima Ambih di pedalaman kalimantan baratt, dan juga dengan Patih Ampat dari kalimantan selatan. jadi jangan heran kalau Datu Nihing sangat sakti. beberapa ilmu beliau yang diketahui masyarakat, katanya beliau bisa menerbangkan mandau ( memenggal kepala tanpa diketahui ), kebal, bisa menjadi raksasa dalam sekejap, menjadi kecil dalam hitungan detik, kuat dalam hal apapun, bisa bernafas didalam air, berjalan diatas air, menjadi tabib, dan lain-lain. Datu Nihing mempunyai kebiasaan "mangayau' setiap bulan april. sasarannya adalah anak kecil. oleh karena itu banyak anak kecil yang hilang di bulan april pada saat itu. seandainya anak kecil itupun dapat, selalu ditemukan tanpa kepala.
Datu Nihing ini tinggal didalam gua, pekerjaannya 'bagarit bayi dan payau'. menggunakan pakaian dari kulit kayu atau kulit binatang. ketika sedang melakukan pekerjaannya di depan gua beliau melihat ada ular raksasa sebesar pohon, mungkin panjangnya 30 meter lebih. Langsung saja beliau mencabut mandau yang langsung diterbangkannya ke arah kepala ular tersebut. anehnya ular itu tidak apa-apa ketika terkena senjata Datu Nihing. hingga mandau itu diarahkan Datu Nihing ke arah leher, tapi tak satupun sabetan mandau itu melukai ular itu.
“Ini pasti ular jajadian” ujar Datu Nihing dalam hati.
Ular itu setelah terkena mandau Datu Nihing, langsung mengamuk. kepalanya menumbuk kearah datu Nihing. Datu Nihing kesana kemari menghindar. sebelum Datu menarik nafas, ekor ular itu sudah mengenai Datu Nihing. saking kerasnya hempasan ekor ular itu, menmbuat Datu Nihing terjungkal jauh kearah tepi tebing batu. untung saja Datu Nihing mempunyai ilmu kebal, jadi beliau tak apa-apa. saat itu Datu Nihing langsung teringat ucapan Guru beliau bahwa ular paling takut dengan 'Haduk Hanau'. langsung saja beliau mengeluarkan 'tali haduk' yang sering beliau bawa kemana-mana untuk mengikat ular itu. kesana kemari beliau mengelilingi ular itu dan terikatlah ular itu yang membuat ular tersebut menjadi lemah tak berdaya. dan ditebaslah kepala ular itu dikepalanya dengan mandau Datu Nihing.
Pernah juga ketika didalam belantara hutan beliau bertemu sosok mahluk mariaban. yang diperkirakan tingginya sekitar 5 meter. mariaban itu mempunyai bulu diseluruh tubuhnya dan taring panjang. Melihat mariaban itu langsung saja beliau menjadi raksasa, dan berkelahi dengan mahluk mariaban itu. banyak pohon roboh ketika kedua mahluk itu bertarung. dari puncak gunung hingga jatuh kedalam jurang. dibanting dan dipukul pun mariaban itu tak mempan. apalagi dibanting ke batu. lalu teringatlah beliau satu tanaman yang bisa mengalahkan mariaban itu dari guru-guru beliau. bamban. ketika bamban itu di pukulkan ke mariaban, berteriaklah mariaban itu kesakitan. kesana kemari Datu Nihing memukulkan bamban itu ketubuh mariaban, hingga tewas. setelah mariaban itu mati, Datu Nihing lalu mecabut bulu mariaban itu sebagai kenang-kenangan.
Kata orang bulu mariaban itu bila ditelan akan membuat orang itu kebal terhadap senjata apapun. tapi mempunyai kelemahan bila dipukul dengan batang bamban.
Di kutip dari sumber fb grup

BAWI KUWU TUMBANG RAKUMPIT

konon, di sebuah kampung sekitarpertengahan aliran Sungai Rungan tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit,
tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya.
Ketika beranjak dewasa wanita cantik itu
dilarang orangtuannya untuk keluar rumah dan
lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam
kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia
mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun
lamanya.
Pada suatu ketika, kedua orangtua Bawi Kuwu
ingin pergi keladang lalu berpesan kepada
dayang-dayang untuk menjaga anak
kesanyangan mereka itu di dalam rumah. tidak
lama setelah kedua orangtuannya itu pergi, tiba-
tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan ingin
madi di Sungai Rungan yang letaknya tidak jauh
dari rumah mereka, tentu para dayang yang
mengawal Bawi Kuwu melarangnya untuk keluar
rumah, apalagi untuk pergi sendiri ke sungai.
Lalu dayang-dayang itu mengambilkan air
kesuangai Rungan untuk memandikan Bawi
Kuwu di dalam rumah, tetapi keinginan dari
para dayang itu ditolaknya dan tetap bersikeras
untuk pergi sendiri kesuangai itu. Suasana
hampir tidak terkendali tetapi akhirnya para
dayang berhasil mencegah keinginan Bawi Kuwu
tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, rupanya
perlakuan dari para dayang itu malah membuat
Bawi Kuwu merasa penasaran. Setelah melihat
situasi aman dan lepas dari pengawalan, Bawi
Kuwu pergi ke Sungai Rungan dengan diam-diam
tanpa ada yang tahu.
Sesampainya di tepi sungai, tepatnya diatas
Lanting (rakit dari kayu dalam bahasa suku
dayak) kejadian naas menimpa gadis cantik itu.
Tiba-tiba buaya besar muncul ke permukaan air
dan menyambar Bawi Kuwu yang belum sempat
mandi di sungai itu, lalu membawannya ke
sarangnya di dalam sungai. Sementara itu situasi
di dalam rumah geger setelah para dayang
menyadari bahwa Bawi Kuwu tidak ada didalam
kamar.
Kemarahan besar muncul dari kedua orangtua
Bawi Kuwu kepada dayang-dayang, karena telah
lalai sehingga mereka tidak mengetahui kemana
perginya anak kesayangan mereka itu. Lalu hari
itu juga mereka memanggil para tokoh adat dan
orang-orang yang memiliki kesaktian dari suku
dayak.
Tiga hari tiga malam lamanya, mereka
mengadakan ritual dalam suku dayak untuk
mencari Bawi kuwu, dan pada suatu malam,
saudara laki-laki dari Bawi Kuwu bermimpi
bertemu dengan Patahu (orang gaib suku dayak)
dan memberikan petunjuk bahwa Bawi Kuwu
masih hidup dan sekarang berada didalam perut
buaya yang telah membawannya itu. Orang gaib
itu juga berpesa apabila buaya itu muncul,
jangan sekali-kali membunuhnya. Lalu
saudarnya itu terbangun dari tidur dan
menceritakan tentang mimpinya itu.
Ketika itu juga mereka mencari Pangareran
(Pawang buaya dalam bahasa suku dayak), dan
tepat pada hari ketiga dalam ritual itu, buaya
yang membawa Bawi Kuwu muncul dari Sungai
Rungan lalu bergerak menuju daratan. Setelah
melihat buaya besar itu datang, tiba-tiba rasa
sedih bercampur amarah muncul dari saudara
laki-laki Bawi Kuwu. Mungkin karena begitu
menyayangi adiknya membuatnya kalap dan lupa
akan pesan orang gaib yang menjumpainya
didalam mimpi, lalu ia menombak buaya itu
sehingga akhirnya mati.
Setelah melihat kejadian itu, mereka langsung
membelah perut buaya dengan peralatan
seadanya dan mendapati Bawi Kuwu yang juga
sudah tidak bernyawa lagi, mati bersama-sama
dengan buaya itu. Akhirnya suasana duka
menyelimuti seluruh kerabat dan semua yang
menyaksikan peristiwa itu.

Jumat, 27 September 2024

CERITA RAKYAT DAYAK UT-DANUM DI BARAS NABUNOleh: YULIUS OBENGJudul: SONGUMANG DAN LACAK HACIK

Penunggu gaib di kalimantan
Konon,Songumang dan Lacak hacik masih kelurga dimana Lacak hacik ini beradik dengan ibu Songumang. Pada suatu hari di kampong mereka mulai musim membuka lading.Songumang danLacak hacik pun berladang,dimana ladang mereka berdampingan.Musim membuka ladang sudah dimulai hingga masa nebang dan nanampun sudah lewat.Tinggal menunggu panen saja,suatu hari Songumang pergi ke ladangmelihat padi dan sayur-sayuran yang sudah ditanam.Namun apa yang terjadi? Padi dan sayuran banyak yang dimakan Boruk*) .Kemudian Songumang pulang ke rumah memberitahukan pada ibunya bahwa lading mereka diserbu kawanan Boruk.Suatu hari Songumang masang bubu di sungai dekat ladangnya sambil muhkok**) kawanan Boruk yang masuk ke ladangnya.Pagi Songumang nohtok***) bubunya hanya dapat ocin kosung****) gabus seekor saja.Maka timbul niatnya menjebak kawanan Boruk dengan memasukan ikan gabus kedalam purusnya=duburnya.Setelah melakukannya Songumangpun teriak minta tolong,Sambil mengulingkan badan ditanah biar nampak benaran jatuh kena tungkul kayu.Mendengar suara minta tolong kawanan Boruk mencari sumber suara tadi,setelah bertemu mereka melihat Songumang sudah mati(pura-pura sich).Merekapun ngahtang=angkat mayat Songumang ke rohpo umok *) Songumang kemudian mereka pun nanum=mengubur mayat Songumang dan mohatik=membekali dengan segala jaot-koratung-sokanong (tempayan tua-gong-canang)dll.Mereka sangat sedih karena Songumang sudah mati tidakada lagi yang berladang untuk mereka.Selah mereka pulang semua Songumangpun moyun=bangun dari kuburnya dan dia melihat di sekitar kubur banyak barang berharga,lalu barang tersebut dibawa pulang kerumahnya.Sampai dirumah Songumang mencoba nahpish=membunyikan gong dan canangnya.Lacak hacik heran dari mana ahkon=keponakannya dapat barang tersebut.Ahkon darimana kamu dapat semuaini?”kata Lacak hacik”.Diceritakanlah oleh Songumang tentang pengalaman bagaimana dia menjebak kawanan Boruk yang masuk keladangnya pada
mamaknya=pamannya.Belum selesai Songumang ceritakan sudah dipotong oleh pamannya,Saya sudah tahu cara ahkon katanya langsung pulang kerumah,Kemudian menceritakan pada keluarganya bahwa tentang pengalaman Songumang mendapatkan harta-benda berharga tersebut.Besok saya akan ke ladang sambil memasang bubu di sungai dekat ladang kitanya bilang istrinya.Pagi hari benar Lacakhacik sudah ada diladang langsung memasang bubunya disungai,sambil menunggu bubunya dia menghalau kawanan Boruk yang masuk ke ladangnya setelah itu dia langsung pulang kerumah,menceritakan bahwa ladang merekapun masuki oleh kawanan Boruk.Keesokan hari Lacakhacik pergi keladang melihat bubunya hanya dapat ikan boit=pati.Lacakhacikpun melakukan sesuai dengan yang diceritakan ahkonnya.Kemudian diapun teriak minta tolong sambil mengulingkan badannya ditanah.Mendengar suara tersebut kawanan Boruk datang dan melihat Lacakhacik sudah mati,lalu mereka angkat mayatnya kepondok belum dipondok Lacakhacik bergerak karena ikan pati itu bergerak ,kiwai=sirip ikan pati melukai duburnya.kawanan Boruk terkejut langsung menjatuhkan badan Lacakhacik dari papahan mereka dan lari kehutan.Sementara Lacakhacik menahan sakit karena ikan pati susah dikeluarkan dari duburnya siripnya sangkut.Diapun pulang ke rumah sambil menahan sakit yang luarbiasa.Lacakhacik menyesal atas perbuatannya yang tergesa-gesa tanpa memikirkan akibatnya.

Kamis, 26 September 2024

KISAH NYAI UNDANG,,TAMBUN DAN BUNGAI ...PERTEMPURAN DIPULAU KUPANG )

Pahlawan di kalimantan
Alkisah Temanggung Sempung sudah mengambil Nyai Nunjang menjadi istrinya dan di anugerahi seorang putri yang diberi nama Nyai Undang, seorang putri yang sangat cantik parasnya, seperti dewi turun dari kayangan. Maka Temanggung Sempung bermaksud akan mengambil Sangalang anaknya Mereng cucu dari Karangkang menjadi menantunya.
Maka tersiarlah kabar dimana-mana akan kecantikan Nyai Undang itu, dan berita itu pun sampailah kepada Raja Laut namanya Sawang. Maka datanglah Raja Sawang dengan balatentaranya, dengan maksud untuk mengawini Nyai Undang tersebut.
Dan dia berjanji dengan semua balatentaranya, jika maksudnya untuk mengawini Nyai Undang itu tidak diterima, maka dia akan mengumumkan perang dengan kota Pulau Kupang itu.
Singkat cerita, dengan di iringi tempik sorak dan teriakan dari para pengiringnya, maka sampailah Raja Sawang di istana Nyai Undang tersebut. Tetapi malang akan tiba, waktu Raja Sawang akan melangkahkan kaki nya diatas Kayu-Nyilu dipintu gerbang istana, maka Raja Sawang terus jatuh, lemah lunglai segala sendi anggota tubuhnya, seperti orang yang tidak bertenaga lagi.
Melihat akan hal yang demikian itu maka Nyai Undang lalu mengambil Dohong â€Å“Raca Holeng Joha, Kahajun Duun Suna Taja Panulang Karing, Hitan Iung Pundan, Sanaman Mantikei dari hulu Katingan Kuman Rahaâ€�. Oleh karena Sawuh (mengamuk) Nyai Undang terus turun mengamuk, semua balatentara Raja Sawang yang ada di Banama dibunuhnya.
Balatentara Raja Sawang menderita kekalahan dan menyerah. Dan mereka yang hidup dijadikan tawanan dan dijadikan jipen atau budak beliannya.
Dari rakyat Raja Sawang dan Raja Nyaliwan (Raja Utara) yang masih hidup ada beberapa orang yang masih dapat melarikan diri dan membawa kabar tentang jalannya pertempuran. Setelah mendengar kabar inilah maka seluruh rakyat Raja Sawang berjanji akan menuntut balas untuk kematian Rajanya.
Semua balatentara Raja Sawang yang menjadi tawanan tadi akhirnya kimpoi mengawin dengan suku dayak, sehingga mereka menjadi satu turunan yang besar yang akhirnya juga menjadi nenek moyang dari suku bakumpai ialah Tamanggung Pandung Tandjung Kumpai Dohong, dari suku barangas ialah Suan Ngantung Rangas Tingang, dari suku alalak ialah Imat Andjir Serapat.
Kabar bahwa Kerajaan Raja Sawang akan menyerang kota Pulau Kupang sampai pula ke Nyai Undang. Maka Nyai Undang mengirimkan utusannya ke Tumbang Pajangei. Dan bersama dengan utusannya itu dikirmkannya pula sebatang Lonjo Bunu atau tombak Bunu sebagai surat. Pesannya itu dikirimkannya kepada Rambang, Ringkai, Tambun, Bungai di Tumbang Pajangei. Yang mana maksud dari Tombak Bunu itu adalah meminta bala bantuan untuk berperang.
Dengan tidak berpikir panjang dan membuang-buang waktu lagi Rambang, Ringkai membawa Temanggung Bungai Andin Sindai anak Temanggung Sempung yang paling berani dan gagah perkasa, serta Raja Tambun Tandjung Ringkin Duhong anak Serupoi.
Keduanya adalah pahlawan yang pangkamenteng pangkamamute. Karena kedua pahlawan ini belum pernah satu kalipun mengalami kekalahan.
Adapun nama-nama para panglima yang turut serta untuk membela Pulau Kupang adalah:
1. Njaring anak Ingoi dari Hulu Miri
2. Bungai anak Ramping dari Tumbang Miri
3. Temanggung Kandeng keponakan Piak Batu Nocoi Riang Naroi
4. Isoh Batu Nyiwuh
5. Etak kampong Tewah
6. Temanggaung Handjungan dari Sare Rangan
7. Temanggung Basi Atang dari Penda Pilang
8. Temanggung Sekaranukan dari Tumbang Manyangen
9. Temanggung Renda dari Baseha
10. Temanggung Rangka dari Tumbang Rio
11. Temanggung Kiting dari Tanjung Riu
12. Temanggung Lapas dari kampung Baras Tumbang Miwan
13. Temanggung Basir Rumbun dari teluk Haan
14. Temanggung Hariwung dari Tumbang Danau
15. Temanggung Dahiang bapa Buadang dari Sepang Simin
16. Temanggung Ringkai dan Tombong dari Tangkahen
17. Temanggung Uhen dari kampung Manen
18. Temanggung Kaliti dari Rawi
19. Rakau Kenan dari Tumbang Rungan
20. Temanggung Kandang Henda Pulang dari Sugihan (Guhong)
21. Temanggung Andin dari Pulau Kantan
Tiada berapa lamanya berkat kerjasama dan saling mengerti satu akan yang lainnya, maka siaplah kota itu lengkap dengan persenjataannya. Dan diberilah nama oleh mereka akan kota itu â€Å“Kota Pematang Sawangâ€� yang selalu siap sedia menerima kedatangan musuh. Istana tempat Nyai Undang dikepalai oleh Temanggung Rambang.
Semua Panglima Perang dari sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan , Seruyan telah berkumpul didalam kota itu. Semua menjadi satu dengan tekad dan satu dasar ialah kerjasama yang erat. Tidak berapa lamanya, musuh(asang) pun datanglah. Jumlah Asang yang datang itu kurang lebih 10.000 orang banyaknya.
Sebelum peperangan dimulai maka Temanggung Rambang dan Temanggung Ringkai menenung sambil menyanyi. Maka dengan tiba-tiba datanglah burung Elang dan memberi tanda menang. Dengan tidak takut akan maut, mereka melawan dan menyerang musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari mereka.
Dengan alat-alat senjata yang ada dan segala pusaka dari nenek moyang suku Dayak pertempuran berlangsung dengan seramnya. Darah mengalir dari tubuh balatentara musuh yang mati, membasahi tanah dan menjadikan air sungai berubah menjadi merah warnanya. Tetapi Panglima-Panglima suku Dayak semuanya tidak ada satu orang pun yang luka atau mati terbunuh oleh senjata musuh, karena mereka memakai pusaka dari Ranying.
Melihat akan ketangkasan serta keunggulan dari balatentara Nyai Undang yang pantang mundur itu, maka akhirnya mereka menyerah dengan marup. Di dalam peperangan yang demikian sengitnya itu, Temanggung Rambang lah yang sangat berjasa karena dia dapat memotong kepala asang tersebut. Semua kepala pasukan musuh mati terbunuh.
Setelah peperangan selesai maka di adakan lah pesta besar untuk memalas Temanggung Rambang dengan darah ayam, babi, sapid an darah orang yang dibunuhnya tadi, supaya tidak tulah karena demikianlah Adat Dayak. Selagi mengadakan pesta itu semua utusan suku Dayak dari seluruh Kalimantan di undang. Dalam pesta itu sudah berkumpul lebih kurang 35 wakil suku Dayak. Yang nama-namanya ada tertulis sebagai berikut:
1. Manan dari hulu Kahayan
2. Londoi dari Tabahoi
3. Djato dari Bahoi
4. Ibong dari Buit Kalimantan Utara
5. Ikuh dari Tinggalan (Tidong)
6. Tingang dari Bukat (Dayak Bukat)
7. Kuit dari hulu Rundit Bt Lupar
8. Parekoi dari Serawai
9. Tunda Luting dari Samba Katingan
10. Dekoi dari Malahoi
11. Unei dari dayak Sahiei
12. Tamban dari Katingan
13. Mahat dari Mahalat
14. Etas dari hulu Kapuas
15. Dalong dari Hampotong
16. Umbing dari Manuhing
17. Tukoh dari Mamaruh
18. Gana dari Mentaya
19. Nuhan dari Saruyan
20. Bakan dari Rungan
21. Sindi dari Miri
22. Bahon dari Bahaun
23. Sawang dari Siang
24. Djohan dari Taran
25. Sota Munan dari Maanyan
26. Pahan dari Kalangan
27. Sakai dari Serawai
28. Manoui dari Rakaoi
29. Punan dari Heban
30. Hinan dari Dusun
31. Djaman dari Kabatan
32. Ritu dari Uru
33. Lati dari Pari
34. Nanau dari Lamandau
Setelah selesai pesta tadi maka sampailah giliran pesta besar lagi untuk mengawinkan Temanggung Sangalang dengan Nyai Undang di Pematang sawang Pulau Kupang. Dan selain itu Mangku Djangkan membikin pesta besar di Pulau Kantan mengawinkan Njaring anak Ingoi dengan Manjang anak Mangku Djangkan, pesta itu tujuh hari tujuh malam lamanya.
Sedikit catatan tentang Pulau Kupang Pematang Sawang. Kota ini turun temurun berganti-ganti orangnya yang menjadi Raja disitu. Dan kotanya juga sering berganti. Hanya dalam tetek tatum tidak diceritakan tentang perubahan kota itu. Jaman sekarang di tempat itu ada terdapat meriam dan bekas peninggalan-peninggalan. Ditempat itu juga sudah diadakan parit yang di namai Terusan Bataguh. Hingga sekarang sering disebut kota Bataguh. Kayu-kayu ulin yang menjadi tiang dan tembok kota itu luasnya tidak kurang dari 5 kilometer persegi.
Di kutip lewat grup fb
 

Lirik lagu dayak ngaju :Malihi janji(terjemah indonesia)

Tagal haranan duit dan jabatan (Hanya karena duit dan jabatan) Balalu cinta mu bapindah pilihan (Lalu cintamu berpindah-pindah pilihan) Aku ...