Iklan google

Rabu, 18 September 2024

misteri warna kuning dalam mistik banjar.

Kain kuning di kalimantan
Masyarakat banjar kalimantan selatan sangat kental dengan adat dan budaya hindu.
Sebuah kepercayaan yang berbaur dengan animisme dan dinamisme.
Warna kuning merupakan simbol keramat yang dianggap agung dan mulia. Hingga banyak makam para tetuha dulu, ulama, wali dan bahkan tempat dianggap keramat diberi kain berwarna kuning.
Adakah tahu sebab kenapa hal ini bisa terjadi?
Banyak faktor penyebabnya, sumber yang dapat kami gali hingga saat ini ada 2 alasan besar yang mendasarinya.
1. Sejarah banjar pangeran samudera yang bertapa didasar samudera selama 41 malam dan keluar dengan tubuh berwarna putih kuning dan berpakaian serba kuning dan berdiri diatas gong/agung berwarna kuning.
2.kepercayaan akan alam kayangan merupakan salah satu kepercayaan sakral, dimana pakaian para penghuni kayangan dan warna alam kayangan lebih banyak di dominasi warna kuning.
Demikian sekilas info, semoga menjadi tambahan pengetahuan .

Sabtu, 07 September 2024

Cerita Rakyat Kalimantan Tengah (Asal Desa Sapundu Hantu)


Kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah terkenal dengan falsafah rumah betangnya, setiap pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga dilakukan secara handep haruyung atau bergotong-royong. Demikianlah pula halnya dengan perilaku penduduk di hulu sungai Seruyan, di sebuah dusun pedalaman pada zaman dahulu kala, di saat musim menanam padi di ladang.
Tradisi bergantian menanam itu dilakukan oleh sebuah keluarga, yang kini giliran lahannya untuk ditanami, karena pada hari-hari sebelumnya ia sudah membantu di lahan keluarga lain. Warga dusun pun berangkat dengan perahu menyeberang sungai menuju ke ladang, tidak terkecuali anak-anak kecil juga dibawa serta dari pada ditinggalkan di rumah, sebab tidak ada yang menjaganya.
Di ladang itu ada sebuah gubug, maka ditinggalkanlah kedua anak laki-laki dari keluarga yang ditanami ladangnya itu oleh orang tuanya. Keduanya masih tanggung untuk dibawa bekerja, karena baru berusia empat dan tiga tahun. Mereka berdua dipesani agar jangan jauh bermain serta tetap berada di gubug. Orang-orang itu, tua dan muda, lalu sibuk bekerja sambil bersenda-gurau, kadang diselingi dengan gelak tawa untuk menghilangi rasa lelahnya.
Sementara itu kedua anak pemilik ladang tadi asyik bermain. Tiba-tiba mereka melihat seekor belalang besar hinggap di dekat mereka. Kedua anak itu heran melihat bentuk belalang itu yang agak lain dari biasanya, keanehannya adalah warna sayapnya yang berwarna-warni dan kepalanya seperti raut muka manusia. Berhentilah kedua anak itu bermain dan sepakat untuk menangkap belalang tersebut.
Keduanya mencoba menangkapinya namun gagal, sebab belalang itu melompat dan hinggap di daun pada semak-semak dekat gubug. Mereka turun dari gubug, penasaran mengejar untuk menangkapnya dan senantiasa gagal. Saking asyiknya mengejar, sementara belalang itu selalu dapat meloloskan diri. Tanpa keduanya menyadari mereka sudah berada di tepi sungai.
Sang kakak lalu berkata : “Sulit untuk kita menangkapnya, baiknya kita pukul saja dengan ranting kayu”. Kebetulan di tempat itu ranting kayu mudah diperoleh, bekas tebangan pohon kecil, jalan untuk ke ladang. Dalam satu kali pukulan saja kenalah belalang itu lalu jatuh ke tanah, belalang itu mati.
Kemudian bangkai belalang itu dipungut sang adik seraya membentangkan sayapnya, sementara sang kakak memperhatikan bangkai belalang itu sambil menusuk mukanya dengan ranting.
Kemudian keduanya turun ke tepi sungai, membenamkan bangkai belalang itu beberapa kali ke dalam air sungai. Karena asyiknya mempermainkan belalang itu, tanpa mereka sadari belalang tersebut berubah wujud, sayapnya perlahan-lahan berubah menjadi seperti tangan manusia.
Sang kakak ternyata melihat hal itu dan berkata : “Dik, cepat lepaskan. Mari kita pulang ke gubug !” Belalang itu ternyata adalah seorang jin penghuni hutan di sekitar ladang itu.
Badannya yang besar dan berwarna kemerah-merahan dengan mukanya yang remuk karena tusukan anak yang tertua tadi, masih dapat berucap dan mengutuk semoga semua mereka yang berada di ladang itu mati disambar petir.
Maka datanglah angin ribut disertai guntur dan petir, suasana menjadi gelap. Kedua anak tersebut telah sampai di gubug sambil berteriak memanggil orang tuanya serta semua mereka yang bekerja itu : “Ayah ! Ibu ! Tolong pulanglah semuanya !”
Melihat cuaca yang berubah itu mereka yang sedang bekerja di ladang serentak berhenti dan berlarian pulang menuju ke arah gubug. Hampir tiba, hanya beberapa langkah lagi ke gubug, bersamaan dengan itu pula sebuah petir yang besar menyambar mereka dan gubug itu. Sesaat langit menjadi gelap pekat dan ….. gubug itu dengan dua orang anak berada di dalamnya serta gerombolan orang banyak yakni orang tuanya dan warga dusun yang bergotong-royong tadi tertutup bongkahan batu besar, semuanya terkurung namun masih hidup. Angin bertiup kencang diiringi hujan lebat.
Tidak berapa lama kemudian langit menjadi terang, hujan badai dan angin ribut tiba-tiba menghilang. Mereka yang ada di dalam gundukan batu berteriak saling memanggil dan meminta tolong.
Orang-orang di dusun tidak kalah kagetnya menghadapi perubahan cuaca itu. Mereka lalu keluar dari rumahnya dan teringat pada keluarga mereka yang handep haruyung di ladang. Dengan serempak mereka menyeberang.
Setibanya di seberang mereka mendengar jeritan serta teriakan meminta tolong, bergegas mereka menuju ke ladang. Suara itu semakin jelas. Alangkah terperanjatnya mereka karena terlihat di sana ada dua buah batu besar dan suara jeritan serta teriakan tersebut berasal dari dalamnya.
Sebagian lalu berusaha memecahkan kedua gundukan batu itu dengan palu, namun tidak berhasil karena sangat besarnya. Sedang yang lainnya memahat membuat lubang untuk mengeluarkan orang-orang itu.
Batu tersebut sudah berlubang seukuran badan manusia, mereka melihat tubuh orang-orang yang berada di dalam batu berwarna agak hitam dan kemerah-merahan karena bekas disambar petir itu.
Kemudian mereka berusaha untuk mengeluarkannya, namun hanya mampu sebatas kepala dan bahu yang keluar, karena lubang tersebut perlahan-lahan menyempit kembali, sehingga terpaksa didorong ke dalam lagi agar tidak terjepit.
Semua warga bergantian kembali memahat kedua gundukan batu itu, tetapi sesudah lubang sebesar tubuh manusia, kembali menyempit dan hanya tersisa sebesar kepalan tangan. Mereka pun jadi putus asa. Sementara itu sebagian warga balik ke dusun mengambil makanan dan mengabarkan kejadian itu kepada warga yang lain.
Seorang warga bertanya lewat lubang pada mereka yang berada dalam gundukan batu yang terbesar : “Hei pahari (saudara) apa gerangan sebabnya hingga terjadi seperti ini ?”
“Entahlah, aku pun tidak tahu. Hanya kudengar suara kedua anakku yang berteriak meminta kami semua untuk pulang ke gubug. Aku tak sempat menanyainya, ketika hampir sampai ke gubug kami disambar petir dan terkurung dalam batu seperti ini. Coba kalian tanya saja pada anakku”, kebetulan yang menjawab adalah ayah kedua anak itu sendiri.
Sambil menangis dan berteriak-teriak kedua anak yang terkurung di gubug yang kini telah berubah menjadi batu menceriterakan asal mula kejadiannya. Maka tahulah mereka bahwa keluarga tersebut saluh (tubuh atau tempat di sekitar seseorang berubah menjadi batu) kena kutukan jin penunggu hutan sekitar tempat itu.
Warga berdatangan membawakan makanan, namun hanya bisa diletakkan di depan lubang, dan mereka yang berada di dalam kedua gundukan batu itu hanya dapat mengambilnya dengan mengulurkan tangannya.
Sanak saudara dari keluarga kedua anak itu dan warga dusun silih berganti menunggu di depan lubang batu, sambil mengadakan rangkaian upacara ritual serta membuat kotak atau rumah kecil dengan satu tiang di depan lubang pada kedua batu tersebut, sebagai tempat meletakkan makanan. Hari berganti hari dan setelah beberapa minggu kemudian, tidak terdengar lagi suara tangisan dari dalam kedua gundukan batu itu.
Keluarga mereka dan segenap warga dusun menganggap bahwa mereka yang ada di dalamnya sudah meninggal semua. Seluruh warga dusun dan terlebih-lebih keluarga dua anak tadi berkabung sangat sedihnya, dan kabar ini pun tersebar hingga ke desa-desa tetangga.
Di depan kedua lubang batu tersebut dibuat keramat tempat menaruh sesajen, sementara di kampung pada setiap rumah warga dusun yang anggota keluarganya ikut saluh saat handep haruyung itu, dibuatkan sapundu (patung kayu) sesuai jumlah orang yang terkurung dalam bongkah batu tersebut.
Bukit di seberang dusun dimana terletak kedua bongkahan batu itu dinamakan bukit Sakajang, dan sampai sekarang keluarga keturunan yang saluh dalam batu itu tetap memberikan sesajen di dalam keramat sebagai bentuk rasa duka dan belasungkawa yang tiada habisnya.
Warga dusun itu yang lama kelamaan berkembang menjadi sebuah desa menamakan tempat mereka itu Sapundu Hantu (dalam bahasa Dayak Ngaju hantu berarti mayat) sampai sekarang. Desa Sapundu Hantu kini termasuk dalam wilayah kecamatan Seruyan Hulu kabupaten Seruyan..
Di kutip dari grup fb

Jumat, 06 September 2024

Sejarah Panglima Batur

Kisah pahlawan di kalimantan
PANGLIMA BATUR.
Bukan sekedar nama jalan yg terkenal.
Panglima Batur (lahir di Buntok Baru, Barito Utara, Kalimantan Tengah pada tahun 1852 - meninggal di, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 Oktober 1905 pada umur 53 tahun)adalah seorang panglima suku Dayak Bakumpai dalam Perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito, sering disebut Perang Barito, sebagai kelanjutan dariPerang Banjar. Panglima Batur adalah salah seorang Panglima yang setia pada Sultan Muhammad Seman. Panglima Batur seorang Panglima dari suku Dayak yang telah beragama Islam berasal dari daerah Buntok Kecil, 40 Km di udik Muara Teweh.
Gelar Panglima khusus untuk daerah suku-suku Dayak pada masa itu menunjukkan pangkat dengan tugas sebagai kepala yang mengatur keamanan dan mempunyai pasukan sebagai anak buahnya. Seorang panglima adalah orang yang paling pemberani, cerdik, berpengaruh dan biasanya kebal.
Panglima batur berjuang bersama sultan banjar sultan muhammad seman yg berjuang mempertahankan benteng manawing.
Beliau
Di kota Banjarmasin, dia diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati. Pada tanggal 15 September 1905 Panglima Batur dinaikkan ke tiang gantungan. Permintaan terakhir yang diucapkannya dia minta dibacakan Dua Kalimah Syahadat untuknya. Dia dimakamkan di belakang masjid Jami Banjarmasin, tetapi sejak 21 April 1958 jenazahnyadipindahkan ke kompleks Makam Pahlawan Banjar di komplek pemakaman pangeran antasari sei jingah.
Di kutip dari sumber grup fb

Kamis, 05 September 2024

Legenda Bawi Kuwu

 konon sekitar abad ke-18, di sebuah kampung sekitar pertengahan aliran Sungai Rungan tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit,
tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya.
Ketika beranjak dewasa wanita cantik itu
dilarang orangtuannya untuk keluar rumah dan
lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam
kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia
mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun
lamanya.
Pada suatu ketika, kedua orangtua Bawi Kuwu
ingin pergi keladang lalu berpesan kepada
dayang-dayang untuk menjaga anak
kesanyangan mereka itu di dalam rumah. tidak
lama setelah kedua orangtuannya itu pergi, tiba-
tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan ingin
madi di Sungai Rungan yang letaknya tidak jauh
dari rumah mereka, tentu para dayang yang
mengawal Bawi Kuwu melarangnya untuk keluar
rumah, apalagi untuk pergi sendiri ke sungai.
Lalu dayang-dayang itu mengambilkan air
kesuangai Rungan untuk memandikan Bawi
Kuwu di dalam rumah, tetapi keinginan dari
para dayang itu ditolaknya dan tetap bersikeras
untuk pergi sendiri kesuangai itu. Suasana
hampir tidak terkendali tetapi akhirnya para
dayang berhasil mencegah keinginan Bawi Kuwu
tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, rupanya
perlakuan dari para dayang itu malah membuat
Bawi Kuwu merasa penasaran. Setelah melihat
situasi aman dan lepas dari pengawalan, Bawi
Kuwu pergi ke Sungai Rungan dengan diam-diam
tanpa ada yang tahu.
Sesampainya di tepi sungai, tepatnya diatas
Lanting (rakit dari kayu dalam bahasa suku
dayak) kejadian naas menimpa gadis cantik itu.
Tiba-tiba buaya besar muncul ke permukaan air
dan menyambar Bawi Kuwu yang belum sempat
mandi di sungai itu, lalu membawannya ke
sarangnya di dalam sungai. Sementara itu situasi
di dalam rumah geger setelah para dayang
menyadari bahwa Bawi Kuwu tidak ada didalam
kamar.
Kemarahan besar muncul dari kedua orangtua
Bawi Kuwu kepada dayang-dayang, karena telah
lalai sehingga mereka tidak mengetahui kemana
perginya anak kesayangan mereka itu. Lalu hari
itu juga mereka memanggil para tokoh adat dan
orang-orang yang memiliki kesaktian dari suku
dayak.
Tiga hari tiga malam lamanya, mereka
mengadakan ritual dalam suku dayak untuk
mencari Bawi kuwu, dan pada suatu malam,
saudara laki-laki dari Bawi Kuwu bermimpi
bertemu dengan Patahu (orang gaib suku dayak)
dan memberikan petunjuk bahwa Bawi Kuwu
masih hidup dan sekarang berada didalam perut
buaya yang telah membawannya itu. Orang gaib
itu juga berpesa apabila buaya itu muncul,
jangan sekali-kali membunuhnya. Lalu
saudarnya itu terbangun dari tidur dan
menceritakan tentang mimpinya itu.
Ketika itu juga mereka mencari Pangareran
(Pawang buaya dalam bahasa suku dayak), dan
tepat pada hari ketiga dalam ritual itu, buaya
yang membawa Bawi Kuwu muncul dari Sungai
Rungan lalu bergerak menuju daratan. Setelah
melihat buaya besar itu datang, tiba-tiba rasa
sedih bercampur amarah muncul dari saudara
laki-laki Bawi Kuwu. Mungkin karena begitu
menyayangi adiknya membuatnya kalap dan lupa
akan pesan orang gaib yang menjumpainya
didalam mimpi, lalu ia menombak buaya itu
sehingga akhirnya mati.
Setelah melihat kejadian itu, mereka langsung
membelah perut buaya dengan peralatan
seadanya dan mendapati Bawi Kuwu yang juga
sudah tidak bernyawa lagi, mati bersama-sama
dengan buaya itu. Akhirnya suasana duka
menyelimuti seluruh kerabat dan semua yang
menyaksikan peristiwa itu.Hingga sampai saat ini tulang belulang Bawi Kuwu msh tetap tersimpan di sebuah sandung kayu bermotif buaya ,terletak di jalan Bawi Kumbu ,kelurahan mangku baru ,kecamatan rakumpit kota palangkaraya..TamaT.

Minggu, 01 September 2024

LEGENDA BATU SULI"( Kalimantan Tengah )

Cerita ini angkat dari kisah nyata
Legenda Batu Suli dipercayai oleh masyarakat Dayak Ngaju dan Ot Danum benar-benar pernah terjadi. Menurut cerita orang-orang tua, dahulu kala sebuah tebing batu yang disebut batu Suli pernah roboh sehingga menutup hubungan lalu-lintas ikan dari Kahayan Hulu ke Kahayan Hilir.
Kejadian ini sungguh tidak mengenakan bagi bangsa Ikan, dahulu mereka mempunyai kekerabatan dan sanak saudara di Kahayan Hulu atau sebaliknya di Kahayan Hilir. Lama kelamaan keadaan itu tidak tertahankan lagi bagi bangsa Ikan, meraka merasa seperti terpenjara akibat putusnya aliran sungai Kahayan itu. Mereka benar-benar tersiksa aikbat peristiwa tebing longsor itu.
Masalah besar bangsa ikan itu harus dicarikan pemecahannya. Untuk menanggulanginya, kemudian para ikan berkumpul dan mengadakan musyawarah besar di Sungai Kahayan. Musyawarah besar bangsa ikan itu akhirnya menghasilkan keputusan yaitu untuk menegakkan kembali tebing yang telah roboh itu.
Akhirnya pada hari yang telah disepakati ribuan bangsa ikan berkumpul untuk bersama-sama menegakkan tebing yang menghambat sungai Kahayan itu. Ikan tapa sesuai dengan hasi musyawarah ditunjuk sebagai mandor. Pekerjaannya mengharuskan ia terus-menerus berteriak-teriak secara lantang agar semangat para pekerja bangsa ikan itu selalu tinggi. Sementra ikan pipih sesuai hasil musyawarah juga diberi tugas untuk memanggul tebing yang roboh itu di atas punggungnya yang pipih.
Begitulah kerja keras bangsa ikan itu pun berlangsung sampai berhari-hari lamanya. Ahirnya berkat usaha keras segenap bangsa ikan itu, tebing Batu Suli dapat ditegakkan kembali seperti sedia kala. Tentu saja hasil keras itu disambut dengan rasa bahagian oleh segenap bangsa ikan. Perasaan terpenjara sekian lama akhirnya bisa bebas lagi, dan bangsa ikan pun dapat kembali saling berhubungan antara di Kahayan hilir dan Kahayan hulu.
Namun, rupanya hasil keras itu harus ditebus mahal oleh bangsa ikan yang terlibat dalam pekerjaan besar itu. Setiap ikan yang turut mengambil bagian dalam pekerjaan itu, harus menanggung akibat pekerjaan besar itu. Sebagai contohnya, keturunan ikan tapa, misalnya, karena kakeknya dahulu terlalu banyak membuka mulut untuk berteriak-teriak dalam tugasnya sebagai mandor, maka kini semua anak keturunannya memiliki mulut yang berukuran besar.
Sementara keturunan ikan pipih, karena kakeknya harus memanggul tebing yang sangat berat itu, punggungnya bungkuk dan tulangnya hancur. Maka kini semua keturunan ikan pipih mempunyai punggung yang bungkuk dan tulangnya yang halus-halus.
Di kutip dari grup fb

tentang sangumang kalteng

Penunggu gaib kalimantan
Sangumang dan Maharaja adalah salah satu cerita rakyat yang berkembang di daerah Kalimantan Tengah. Cerita ini di satu sisi menggambarkan kisah seorang pemuda yang berkeinginan untuk menjadi pasangan dari salah seorang putri pamannya sendiri dan ia sosok pemuda yang cerdas. Pada sisi yang diceritakan juga sosok paman yang tolol sehingga mudah terhasut untuk melakukan sesuatu walaupun membahayakan dirinya. Cerita ini juga terdapat dua kisah ketololan sang paman (Maharaja). Pertama ketika Sangumang pergi bermain ke rumahnya, Sangumang berkeinginan untuk meminta babi kepada sang paman, oleh karena sang paman ini tergolong orang yang kikir, maka ia menyiasatinya dengan menceritakan tentang mimpinya agar pamannya mengorbankan seekor babi. Akhirnya pamannya melakukan apa yang menjadi mimpi Sangumang. Ketika ia sadar bahwa ia ditipu oleh Sangumang, dia berniat membalas agar Sangumang juga mengorbankan babinya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, bukannya ia mendapat apa yang menjadi niatnya sebaliknya ia harus merelakan putri bungsunya dipersunting oleh Sangumang. Demikian juga pada kisah kedua berhasil mengelabui hantu dan mengambil ikan hasil tangkapan hantu. Ia menceritakan perjalanannya kepada sang paman dan tanpa mendengar dengan cermat lalu iapun bergegas hendak mencuri ikan tangkapan sang hantu. Bukannya kenikmatan yang didapatnya melainkan sial yang didapatinya. Cerita ini memberikan pesan bahwa hidup ini harus dijalani dengan baik, santun kepada orang tua, tidak memaksakan kehendak dan tidak boleh kikir.
Hingga kini sangumang dipercaya masih bisa penampakan diri dengan wujud apa saja, biasanya kemunculan sangomang pasti akan membawa rejeki atau suatu yang bertuah seperti salah satu contoh batu bertuah yang di miliki pisor di kalimantan tengah pada gambar dibawah ini.

Kamis, 29 Agustus 2024

hantuen/kuyang kalimantan

Kisah kuyang atau hantuen kalimantan
Hantuen adalah jenis makhluk halus
yang sulit didefinisikan, karena
hantuen bukan merupakan “spesies”
tapi “family” dari kelompok makhluk
halus yang suka mengganggu
manusia yang “lamah bulu’ atau sensitif terhadap gangguan makhluk
halus. Hantuen bisa jadi penghuni pohon
keramat tertentu, goa tertentu,
gunung tertentu, jurang tertentu atau
rumah tua tertentu. Kelompok Jin,
gendorowo, dan sebagainya
merupakan kelompok Hantuen. Ada 3 karakter dari hantuen ini, yang
pertama adalah hantuen yang cuek
bebek dengan aktivitas manusia,
konon mereka hanya akan
“menegur” manusia jikamengganggu
alam mereka. Karakter kedua adalah karakter jahil, suka menakut nakuti
manusia dan bisa menampakkan diri
walaupun tidak lama. Namun orang
dengan Indera ke -6 dan Ke-7 dapat
melihat jenis jenis hantuen ini.
Karakter ketiga dalah karakter red/ merah adalah jenis yang kalau
terganggu akan berbuat brutal dan
konon bisa meminta tumbal nyawa. Dalam dunia Belian, Hantuen Karakter
1 dan 2 kadang bisa dipanggil oleh
“pawang” atau wadian untuk diminta
tolong menyembuhkan sesuatu
penyakit atau keluhan lainnya.
Tempat tempat yang dihuni oleh Hantuen karakter 1 dan 2 ditandai
dengan kain atau bendera kuning,
biasa terdapat di muara sungai,
tikungan sungai, pohon tua, kuburan
tua tanpa nama, gunung, batu dan
sebagainya. Hantuen jenis Red atau merah atau
karakter 3, adalah jenis makhluk
halus yang sangat enggan diganggu
manusia, dipanggil, atau diusik usik,
karena “mereka” akan murka.
Menurut Hikayat jenis merah adalah kasta tertinggi, dan bisa
memerintahkan, atau menghukum
yang jenis kuning (karakter 1 dan 2).
Pemanggilan Hantuen merah hanya
bisa dilakukan dalam upacara besar
sekelas “manyanggar” dalam bahasa Dayak Ngaju. “mereka” disediakan
tempat sesajen atau “meja makan”
tersendiri, terpisah dan spesial,
lengkap dengan kain merahnya, tidak
boleh digabung dengan kategori
kuning. Seorang belian yang saya wawancara
menolak keras untuk menjawab
ketika saya tanya bagaimana cara
“mengusir” jenis hantuen ini. Menurut
beliau keahlian ini hanya dimiliki oleh
mereka yang berstatus wadian atau belaian atau orang pintar, yang hanya
diperoleh dengan lelaku dan tapa/
itampadi tertentu.

Lirik lagu dayak ngaju :Malihi janji(terjemah indonesia)

Tagal haranan duit dan jabatan (Hanya karena duit dan jabatan) Balalu cinta mu bapindah pilihan (Lalu cintamu berpindah-pindah pilihan) Aku ...