Iklan google

Senin, 14 Oktober 2024

Cerita Kesultan banjar

Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari kerajaan daha
Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, Menurut Naskah Cerita Turunan Raja Banjar Dan Kotawaringin (Hikayat Banjar Resensi I) sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Kesultanan Banjar berkembang dari pengaruh dan pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha pada abad ke-15. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Raden Samudera, yang kemudian menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Kesultanan Banjar kemudian menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di Kalimantan Selatan selama berabad-abad.
1. Asal Usul Kesultanan Banjar: Kesultanan Banjar berasal dari Kerajaan Negara Daha, sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berkuasa di wilayah Kalimantan Selatan pada abad ke-14 dan ke-15.
2. Pemberontakan: Pada abad ke-15, terjadi pemberontakan terhadap Kerajaan Negara Daha yang dipimpin oleh Raden Samudera. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pemerintahan dan kebijakan kerajaan sebelumnya.
3. Sultan Suriansyah: Raden Samudera, setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Negara Daha, mendirikan Kesultanan Banjar dengan dirinya sendiri sebagai Sultan pertama, dengan gelar Sultan Suriansyah. Inilah awal dari Kesultanan Banjar yang mandiri.
4. Perkembangan KESULTANAN BANJAR : Setelah berdirinya Kesultanan Banjar, wilayah kekuasaannya berkembang pesat dan mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Kesultanan Banjar menjadi salah satu pusat kekuasaan yang kuat di pulau Kalimantan selama berabad-abad.
Dengan demikian, Kesultanan Banjar memiliki akar yang berasal dari Kerajaan Negara Daha, tetapi berkembang menjadi entitas politik dan budaya yang mandiri dengan kekuasaan yang luas di wilayah Kalimantan Selatan.
SEJARAH BUKU-BUKU BAHASA BELANDA ANTARA LAIN :
1. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 1. D. A. Thieme
2. (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 2. D. A. Thieme.
3. (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap
4. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog (ed. 2). A.W. Sythoff.
5. (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte. Episode uit den Banjermasingschen oorlog. Expeditie tegen de versterking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier; beschrijving der versterking te Goenong Tongka, na de inname; aanteekeningen omtrent Pangeran Hijdaijat ... Tweede, veel vermeerderde ... druk.
6. Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Volume 1
7. Verhandelingen en Berigten Betrekkelijk het Zeewegen Volume 1
8. Jaarboek van het mijnwegen in Nederlandsch-Indiƫ, Volume 17
9. De Voormalige Zelfbesturende En Gouvernementslandschapren In Zuid oost Borneo C Nagtegaal
10. dan lain sebagainya.
Pada tanggal 11 Juni 1860, perjuangan Kesultanan Banjar saat Belanda menghapuskan kedaulatan mereka. Pasukan kolonial mulai berkumpul di sekitar perbatasan, siap untuk melancarkan serangan terhadap kesultanan yang telah lama menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan,markas belanda di martapura dan banjarmasin
pasukan kolonial mulai membakar desa-desa yang terletak di sepanjang perbatasan kesultanan. Api menjilat-ratakan rumah-rumah tradisional, dan teriakan putus asa memenuhi udara saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk, Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.
Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar.
Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami. saat penduduk berusaha melarikan diri dari amukan kebakaran. lautan api terus meluas di sepanjang perbatasan Kesultanan Banjar. Desa demi desa hancur menjadi abu, meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan. Para pejuang dan wali kesultanan melakukan segala upaya untuk melawan serangan tersebut, tetapi kekuatan kolonial yang superior terlalu kuat untuk ditahan.
Pada tahun 3 maret 1862, sultan dan wali sultan di asingkan ke batavia lalu di pindahkan ke Ciankur jawa barat perjuangan Kesultanan Banjar dengan pahit. Istana yang megah terbakar menjadi runtuhan, dan harta serta artefak berharga hancur terbakar. Lautan api telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan dan keputusasaan di hati para penduduk yang tersisa.
Namun, meskipun kesultanan itu hancur, semangatnya tetap hidup dalam cerita dan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin telah kehilangan kedaulatan fisik, tetapi warisan budaya dan semangat perlawanan mereka tetap abadi dalam ingatan dan hati para keturunan Kesultanan Banjar. Sungguh tragis memikirkan betapa kejamnya masa itu. Bagaimana para pejuang dan wali Kesultanan Banjar berjuang dengan keras hanya untuk melihat kedaulatan dan warisan budaya mereka dihancurkan. Peristiwa tersebut memang bisa membuat kita merasa histeris dan memahami kepedihan yang mereka alami.
PAHLAWAN DARI BANJAR Mamgkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 & Demang Lehman
Kerajaan Banjar merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Kalimantan Selatan, Indonesia. Wilayahnya meliputi sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan, termasuk daerah sekitar Sungai Martapura. Bekas peninggalan kerajaan ini dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar provinsi Kalimantan Selatan, terutama di sekitar wilayah Banjarmasin, ibu kota provinsi tersebut.
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah:
1. Peran dalam Perlawanan:
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.
2. Kepemimpinan dan Pengaruh:
Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 memiliki peran yang signifikan dalam memimpin dan memobilisasi masyarakat setempat untuk melawan penjajah, memberikan inspirasi dan dukungan bagi mereka yang berjuang untuk kemerdekaan.
3. Kontribusi pada Masyarakat:
Selain peran Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam perlawanan, Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga memiliki kontribusi yang berarti dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.
4. Representasi Kebudayaan dan Identitas Lokal:
Pengakuan terhadap Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 juga penting dalam melestarikan dan menghormati warisan budaya dan identitas lokal mereka, yang merupakan bagian integral dari sejarah dan kebanggaan bangsa.
5. Pelajaran Berharga:
Mengabadikan kisah Demang Lehman, Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 dalam sejarah akan memberikan pelajaran berharga bagi generasi sekarang dan yang akan datang tentang pentingnya perjuangan, kesetiaan, dan keberanian dalam menghadapi penindasan dan penjajahan.
– Demang Lehman layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan kontribusinya dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Peran dan Kontribusi perang Banjar:Demang Lehman:
– Sebagai pemimpin lokal, ia memimpin masyarakat setempat dalam perlawanan, menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.dalam perlawanan dengan keberanian dan keteguhan yang luar biasa, menginspirasi generasi berikutnya.
– Kontribusinya tidak hanya dalam perlawanan, tetapi juga dalam membangun dan memperkuat masyarakat lokal, baik secara ekonomi maupun sosial.Selain mengorganisir perlawanan, dikenal karena upayanya dalam membangun solidaritas dan kesatuan di antara penduduk lokal untuk melawan penindasan.
– Nilai perjuangannya mencakup semangat kebebasan, keadilan, dan pengabdian kepada tanah air, yang merupakan landasan penting bagi kemerdekaan Indonesia.
Peran dan Kontribusi perang Banjar:Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862:
– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 adalah simbol perlawanan bangsawan terhadap penjajah Belanda, dan layak diabadikan dalam sejarah.
– Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II Wali Sultan Banjar 1857-1862 layak diabadikan dalam narasi sejarah karena peran dan pengaruh beliau dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
– Sebagai tokoh aristokrat, beliau memberikan inspirasi dan dukungan bagi masyarakat untuk berjuang demi kemerdekaan.beliau memberikan inspirasi dan kepemimpinan yang kritis dalam memobilisasi masyarakat untuk perlawanan, menunjukkan pengorbanan dan keteguhan yang luar biasa.
– Kontribusi beliau tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga dalam memperkuat identitas lokal dan membangun kesadaran nasional, dalam memperkuat kesadaran nasional dan semangat persatuan di antara bangsa Indonesia.
– Nilai perjuangan beliau mencakup semangat patriotisme, kepemimpinan yang adil, dan semangat untuk mencapai kemerdekaan serta keadilan bagi semua rakyat Indonesia.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Dia dikenal sebagai pejuang yang gigih dalam Perang Banjar pada abad ke-19. Pada masa itu, kerajaan Banjar berada dalam situasi konflik yang intens dengan Belanda yang ingin menguasai wilayah tersebut.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman merupakan salah satu pemimpin militer yang berani dan berbakat dalam mengorganisir pertahanan Banjar.Dia memimpin pasukan Banjar dalam pertempuran melawan pasukan kolonial Belanda. Meskipun menghadapi tekanan dan tantangan yang besar, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman bersama dengan pejuang-pejuang Banjar lainnya berusaha keras untuk mempertahankan kedaulatan dan kebebasan tanah air mereka.
– Perjuangan Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman dan para pejuang Banjar lainnya dalam Perang Banjar memperlihatkan semangat dan tekad yang kuat untuk melawan penjajahan dan menjaga kemerdekaan wilayah mereka. perjuangan mereka tetap diingat sebagai bagian dari sejarah dan warisan perlawanan terhadap penjajahan.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Banjar, sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan, Indonesia. Pada tanggal 3 Maret 1862, Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Cianjur, Jawa Barat. Ini merupakan bagian dari upaya Belanda untuk mengendalikan dan mengurangi pengaruh para pemimpin lokal yang dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan kolonial mereka.
– Wali Sultan Banjar 1857- 1862 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman diasingkan 3 maret 1862 karena peran serta aktifnya dalam perlawanan terhadap kekuasaan Belanda di Banjar. Sebagai seorang wali dan tokoh terkemuka di Banjar, ia memimpin perlawanan terhadap upaya-upaya Belanda untuk menguasai wilayah tersebut. Namun, upaya-upaya tersebut tidak berhasil, dan akhirnya Belanda mengambil tindakan keras dengan mengasingkan Pangeran Wirakusuma ke Cianjur.
– Meskipun diasingkan, Wali Sultan Banjar wafat 6 juni 1901 Pangeran Wirakusuma Pangeran Ratu Abdurrahman tetap mempertahankan semangat perlawanan dan tekadnya untuk melawan penjajahan Belanda. Meskipun terpisah dari tanah airnya, warisannya sebagai pejuang dan pembela kemerdekaan Banjar tetap dikenang dan dihormati oleh masyarakat setempat. Peristiwa pengasingan ini merupakan bagian penting dari sejarah perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Kalimantan Selatan.
Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II: adalah Putra Raja Pangeran Ratu Abdurrahman bin Sultan Adam Bin Sultan Sulaiman rahmatulah bin sultan Tahmidulah II KESULTANAN BANJAR kalimantan selatan indonesia
Lebih dari itu, Pangeran Wirakusuma juga menjadi motivator dan inspirator bagi pasukannya. Dengan kata-kata yang penuh semangat, beliau mampu menggerakkan hati dan jiwa para prajuritnya, membangkitkan semangat perjuangan dalam diri mereka. Bersama-sama, mereka siap menghadapi segala rintangan demi melindungi tanah air mereka.
Di setiap pertempuran, Pangeran Wirakusuma selalu berada di garis depan, memimpin pasukannya dengan keberanian dan keteguhan hati. Kepahlawanan mereka dalam menghadapi musuh yang kuat dan keberanian mereka dalam menghadapi tantangan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Pengaruh Pangeran Wirakusuma tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Banjar, tetapi juga meluas ke seluruh Indonesia. Namanya diabadikan sebagai simbol kepahlawanan dan keteguhan dalam menghadapi penjajah, menginspirasi banyak orang untuk meneladani semangatnya dalam menjaga dan mempertahankan tanah air. Warisannya dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan keadilan terus mengilhami generasi-generasi berikutnya.
Kisah perjuangan dan pengaruh Pangeran Wirakusuma tetap hidup dalam sejarah Banjar dan Indonesia secara keseluruhan. Namanya terukir sebagai pahlawan yang tidak hanya berani dalam pertempuran, tetapi juga mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebagai pahlawan sejati dan simbol perlawanan terhadap penjajah, Pangeran Wirakusuma akan selalu dihormati dan diingat sebagai teladan bagi kita semua.
Beberapa situs bersejarah yang masih ada dan terkait dengan Kerajaan Banjar antara lain:
1. Istana Kesultanan Banjar: Istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Banjar dan pusat pemerintahan kerajaan. Saat ini, beberapa bekas bangunan istana telah direstorasi dan dijadikan objek wisata sejarah.
2. Makam Kesultanan Banjar: Makam-makam para sultan dan tokoh penting kerajaan Banjar dapat ditemukan di beberapa lokasi di sekitar Banjarmasin. Makam-makam ini sering menjadi tempat ziarah dan menjadi peninggalan sejarah yang penting.
3. Museum Wasaka & Lambung Mangkurat: Museum Wasaka di Banjarmasin merupakan tempat yang menyimpan berbagai artefak dan benda bersejarah terkait dengan Kerajaan Banjar, seperti pakaian adat, peralatan kerajaan, dan dokumen-dokumen sejarah.
4. Situs-situs Arkeologi: Beberapa situs arkeologi di sekitar Kalimantan Selatan juga telah mengungkapkan peninggalan sejarah Kerajaan Banjar, seperti artefak-artefak tembikar dan struktur bangunan kuno.
Meskipun banyak peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan, beberapa di antaranya mungkin telah terkubur atau rusak karena faktor alam atau aktivitas manusia. Namun, upaya pelestarian dan pemulihan terus dilakukan untuk menjaga warisan bersejarah ini agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.
Pangeran Mangkubumi Pangeran Ratu Anom Wirakusuma II, lahir pada tanggal 19 Agustus 1822, adalah wali sultan Banjar yang menjadi kepala pemerintahan berkuasa. Beliau memerintah dari tanggal 3 November 1857 hingga 3 Maret 1862, dan wafat pada tanggal 6 Juni 1901. Beliau diakui sebagai Pahlawan Banjar Kalimantan Selatan.Peran Pangeran Wirakusuma dalam Perang Banjar sangatlah penting. Pada masa-masa awal perang melawan penjajah Belanda, beliau muncul sebagai tokoh utama yang memimpin perlawanan.
Sebagai Wali Sultan Banjar Kerajaan Banjar, beliau memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi kedaulatan tanah airnya. Pangeran Wirakusuma tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga seorang strategis yang ulung. Beliau merancang strategi perang yang cerdas, memanfaatkan pengetahuannya tentang medan dan kekuatan musuh untuk merencanakan serangan yang efektif.
Dengan mengakui dan mengabadikan peran serta kontribusi beliau, kita dapat memastikan bahwa warisan mereka tetap hidup dan dihargai oleh generasi mendatang, serta memberikan inspirasi bagi perjuangan masa depan.
Cerita di kutip dari grup fb.

Sabtu, 12 Oktober 2024

DATU NIHING"

Penunggu gaib kalimantan
Pada zaman bahari, di pegunungan meratus hiduplah seorang datu. Datu Nihing. sewaktu muda beliau suka merantau ketempat yang sangat jauh untuk mencari ilmu. menurut cerita beliau pernah berguru kepada Panglima Burung di pedalaman kalimantan tengah, Panglima Antang di pedalaman kalimantan timur, Panglima Ambih di pedalaman kalimantan baratt, dan juga dengan Patih Ampat dari kalimantan selatan. jadi jangan heran kalau Datu Nihing sangat sakti. beberapa ilmu beliau yang diketahui masyarakat, katanya beliau bisa menerbangkan mandau ( memenggal kepala tanpa diketahui ), kebal, bisa menjadi raksasa dalam sekejap, menjadi kecil dalam hitungan detik, kuat dalam hal apapun, bisa bernafas didalam air, berjalan diatas air, menjadi tabib, dan lain-lain. Datu Nihing mempunyai kebiasaan "mangayau' setiap bulan april. sasarannya adalah anak kecil. oleh karena itu banyak anak kecil yang hilang di bulan april pada saat itu. seandainya anak kecil itupun dapat, selalu ditemukan tanpa kepala.
Datu Nihing ini tinggal didalam gua, pekerjaannya 'bagarit bayi dan payau'. menggunakan pakaian dari kulit kayu atau kulit binatang. ketika sedang melakukan pekerjaannya di depan gua beliau melihat ada ular raksasa sebesar pohon, mungkin panjangnya 30 meter lebih. Langsung saja beliau mencabut mandau yang langsung diterbangkannya ke arah kepala ular tersebut. anehnya ular itu tidak apa-apa ketika terkena senjata Datu Nihing. hingga mandau itu diarahkan Datu Nihing ke arah leher, tapi tak satupun sabetan mandau itu melukai ular itu.
“Ini pasti ular jajadian” ujar Datu Nihing dalam hati.
Ular itu setelah terkena mandau Datu Nihing, langsung mengamuk. kepalanya menumbuk kearah datu Nihing. Datu Nihing kesana kemari menghindar. sebelum Datu menarik nafas, ekor ular itu sudah mengenai Datu Nihing. saking kerasnya hempasan ekor ular itu, menmbuat Datu Nihing terjungkal jauh kearah tepi tebing batu. untung saja Datu Nihing mempunyai ilmu kebal, jadi beliau tak apa-apa. saat itu Datu Nihing langsung teringat ucapan Guru beliau bahwa ular paling takut dengan 'Haduk Hanau'. langsung saja beliau mengeluarkan 'tali haduk' yang sering beliau bawa kemana-mana untuk mengikat ular itu. kesana kemari beliau mengelilingi ular itu dan terikatlah ular itu yang membuat ular tersebut menjadi lemah tak berdaya. dan ditebaslah kepala ular itu dikepalanya dengan mandau Datu Nihing.
Pernah juga ketika didalam belantara hutan beliau bertemu sosok mahluk mariaban. yang diperkirakan tingginya sekitar 5 meter. mariaban itu mempunyai bulu diseluruh tubuhnya dan taring panjang. Melihat mariaban itu langsung saja beliau menjadi raksasa, dan berkelahi dengan mahluk mariaban itu. banyak pohon roboh ketika kedua mahluk itu bertarung. dari puncak gunung hingga jatuh kedalam jurang. dibanting dan dipukul pun mariaban itu tak mempan. apalagi dibanting ke batu. lalu teringatlah beliau satu tanaman yang bisa mengalahkan mariaban itu dari guru-guru beliau. bamban. ketika bamban itu di pukulkan ke mariaban, berteriaklah mariaban itu kesakitan. kesana kemari Datu Nihing memukulkan bamban itu ketubuh mariaban, hingga tewas. setelah mariaban itu mati, Datu Nihing lalu mecabut bulu mariaban itu sebagai kenang-kenangan.
Kata orang bulu mariaban itu bila ditelan akan membuat orang itu kebal terhadap senjata apapun. tapi mempunyai kelemahan bila dipukul dengan batang bamban.
Di kutip dari sumber fb grup

BAWI KUWU TUMBANG RAKUMPIT

konon, di sebuah kampung sekitarpertengahan aliran Sungai Rungan tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit,
tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya.
Ketika beranjak dewasa wanita cantik itu
dilarang orangtuannya untuk keluar rumah dan
lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam
kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia
mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun
lamanya.
Pada suatu ketika, kedua orangtua Bawi Kuwu
ingin pergi keladang lalu berpesan kepada
dayang-dayang untuk menjaga anak
kesanyangan mereka itu di dalam rumah. tidak
lama setelah kedua orangtuannya itu pergi, tiba-
tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan ingin
madi di Sungai Rungan yang letaknya tidak jauh
dari rumah mereka, tentu para dayang yang
mengawal Bawi Kuwu melarangnya untuk keluar
rumah, apalagi untuk pergi sendiri ke sungai.
Lalu dayang-dayang itu mengambilkan air
kesuangai Rungan untuk memandikan Bawi
Kuwu di dalam rumah, tetapi keinginan dari
para dayang itu ditolaknya dan tetap bersikeras
untuk pergi sendiri kesuangai itu. Suasana
hampir tidak terkendali tetapi akhirnya para
dayang berhasil mencegah keinginan Bawi Kuwu
tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, rupanya
perlakuan dari para dayang itu malah membuat
Bawi Kuwu merasa penasaran. Setelah melihat
situasi aman dan lepas dari pengawalan, Bawi
Kuwu pergi ke Sungai Rungan dengan diam-diam
tanpa ada yang tahu.
Sesampainya di tepi sungai, tepatnya diatas
Lanting (rakit dari kayu dalam bahasa suku
dayak) kejadian naas menimpa gadis cantik itu.
Tiba-tiba buaya besar muncul ke permukaan air
dan menyambar Bawi Kuwu yang belum sempat
mandi di sungai itu, lalu membawannya ke
sarangnya di dalam sungai. Sementara itu situasi
di dalam rumah geger setelah para dayang
menyadari bahwa Bawi Kuwu tidak ada didalam
kamar.
Kemarahan besar muncul dari kedua orangtua
Bawi Kuwu kepada dayang-dayang, karena telah
lalai sehingga mereka tidak mengetahui kemana
perginya anak kesayangan mereka itu. Lalu hari
itu juga mereka memanggil para tokoh adat dan
orang-orang yang memiliki kesaktian dari suku
dayak.
Tiga hari tiga malam lamanya, mereka
mengadakan ritual dalam suku dayak untuk
mencari Bawi kuwu, dan pada suatu malam,
saudara laki-laki dari Bawi Kuwu bermimpi
bertemu dengan Patahu (orang gaib suku dayak)
dan memberikan petunjuk bahwa Bawi Kuwu
masih hidup dan sekarang berada didalam perut
buaya yang telah membawannya itu. Orang gaib
itu juga berpesa apabila buaya itu muncul,
jangan sekali-kali membunuhnya. Lalu
saudarnya itu terbangun dari tidur dan
menceritakan tentang mimpinya itu.
Ketika itu juga mereka mencari Pangareran
(Pawang buaya dalam bahasa suku dayak), dan
tepat pada hari ketiga dalam ritual itu, buaya
yang membawa Bawi Kuwu muncul dari Sungai
Rungan lalu bergerak menuju daratan. Setelah
melihat buaya besar itu datang, tiba-tiba rasa
sedih bercampur amarah muncul dari saudara
laki-laki Bawi Kuwu. Mungkin karena begitu
menyayangi adiknya membuatnya kalap dan lupa
akan pesan orang gaib yang menjumpainya
didalam mimpi, lalu ia menombak buaya itu
sehingga akhirnya mati.
Setelah melihat kejadian itu, mereka langsung
membelah perut buaya dengan peralatan
seadanya dan mendapati Bawi Kuwu yang juga
sudah tidak bernyawa lagi, mati bersama-sama
dengan buaya itu. Akhirnya suasana duka
menyelimuti seluruh kerabat dan semua yang
menyaksikan peristiwa itu.

Lirik lagu dayak ngaju :Malihi janji(terjemah indonesia)

Tagal haranan duit dan jabatan (Hanya karena duit dan jabatan) Balalu cinta mu bapindah pilihan (Lalu cintamu berpindah-pindah pilihan) Aku ...